Pendapatan rata-rata YouTuber Korea Selatan melonjak 25% dalam empat tahun menjadi US$49.000 per tahun.

SEOUL – Pendapatan kreator media individu seperti YouTuber di Korea Selatan melonjak lebih dari 25% dalam empat tahun terakhir. Rata-rata pendapatan mereka kini telah melampaui 70 juta won atau sekitar US$49.000 per tahun, sementara kelompok 1% teratas menikmati penghasilan hampir 1,3 miliar won per orang.

Data tersebut diungkapkan oleh Park Sung-hoon dari Partai Kekuatan Rakyat, oposisi utama di Korea Selatan. Ia menyampaikan bahwa para YouTuber melaporkan pendapatan gabungan sebesar 2,47 triliun won pada 2024. Angka ini berasal dari wajib pajak yang terdaftar sebagai produsen konten media individu.

Pendapatan rata-rata YouTuber naik menjadi sekitar 71 juta won per tahun pada 2024, meningkat 25,6% dibanding 2020.

Jumlah Kreator Meningkat Tajam

Jumlah YouTuber yang mengajukan laporan pajak juga melonjak signifikan. Pada 2020, tercatat hanya 9.449 kreator yang melaporkan penghasilan mereka. Namun pada 2024, jumlah tersebut meningkat hampir empat kali lipat menjadi 34.806 orang.

Seiring dengan pertumbuhan jumlah kreator, pendapatan rata-rata pun naik dari 56,51 juta won pada 2020 menjadi sekitar 71 juta won pada 2024. Kenaikan ini menunjukkan semakin kuatnya posisi industri kreator digital dalam ekosistem ekonomi Korea Selatan.

Polarisasi Pendapatan Makin Tajam

Meski rata-rata pendapatan meningkat, data juga menunjukkan ketimpangan yang tajam. Kelompok 1% teratas—sebanyak 348 kreator—menghasilkan total 450,1 miliar won, dengan rata-rata 1,29 miliar won per orang. Angka ini naik sekitar 70% dibandingkan 2020.

Sementara itu, 10% kreator teratas secara keseluruhan membukukan pendapatan 1,15 triliun won atau rata-rata 333 juta won per orang.

Di sisi lain, 50% kreator terbawah hanya menghasilkan total 428,6 miliar won, dengan rata-rata sekitar 24,63 juta won per orang. Data ini memperlihatkan adanya polarisasi pendapatan yang cukup ekstrem di industri kreator digital.

Faktor Politik dan Pengawasan Pajak

Pertumbuhan pendapatan ini juga dipercepat oleh lonjakan siaran politik pasca pengumuman status darurat militer pada Desember 2024. Momentum tersebut meningkatkan trafik konten dan memperketat persaingan antar kreator.

Namun, meningkatnya nilai ekonomi industri ini turut memicu seruan agar pengawasan pajak diperketat. Park Sung-hoon menekankan pentingnya pemantauan terhadap potensi penghindaran pajak maupun penyembunyian pendapatan dari platform digital seperti YouTube.

“Pihak berwenang harus terus memantau dan memeriksa secara menyeluruh upaya untuk menyembunyikan pendapatan yang dihasilkan di YouTube atau menghindari pajak.”

Profil Demografis Kreator

Dari sisi usia, kreator berusia 30-an menyumbang hampir setengah dari total pendapatan industri ini. Sementara itu, kelompok usia 40-an mencatat rata-rata pendapatan tertinggi, yakni 86,75 juta won per tahun.

Fenomena ini menunjukkan bahwa industri kreator digital tidak lagi didominasi generasi muda semata, melainkan telah berkembang menjadi profesi lintas generasi dengan potensi ekonomi yang signifikan.


Sumber Terkait:

 

Exit mobile version