Bea materai (stamp duty) adalah pajak yang membatasi kebebasan individu dan harus segera dihapuskan.

LONDON – Pajak bea materai (stamp duty) kembali menjadi sorotan karena dinilai menghambat mobilitas masyarakat dalam pasar properti. Pajak ini dianggap membuat banyak individu terjebak di hunian yang sudah tidak lagi sesuai dengan kebutuhan hidup mereka.

Pada berbagai tingkatan pasar perumahan, keberadaan bea materai dinilai menciptakan hambatan finansial yang signifikan. Mulai dari pembeli rumah pertama hingga pemilik rumah yang ingin pindah ke hunian yang lebih sesuai, semuanya menghadapi tekanan biaya tambahan yang tidak kecil.

“Bea materai adalah pajak atas kebebasan pribadi dan kemajuan, dan seharusnya dihapuskan.”

— Dominic Agace

Bagi pembeli rumah pertama kali, pajak ini memperberat beban finansial karena mereka harus mengumpulkan dana tidak hanya untuk uang muka, tetapi juga untuk membayar bea materai. Akibatnya, banyak calon pembeli yang tetap bertahan di hunian sewa lebih lama dari yang seharusnya.

Hambat Mobilitas di Semua Segmen

Permasalahan tidak hanya terjadi pada pembeli pertama. Mereka yang ingin meningkatkan kualitas hunian dengan pindah ke rumah yang lebih besar juga terhambat oleh tingginya biaya pajak. Sebaliknya, pemilik rumah yang ingin pindah ke hunian lebih kecil juga tetap dibebani biaya yang signifikan.

Kondisi ini menyebabkan banyak orang bertahan di rumah yang tidak lagi sesuai dengan kebutuhan mereka, baik terlalu kecil maupun terlalu besar, sehingga tidak efisien dari sisi penggunaan ruang maupun biaya.

Dalam beberapa kasus, faktor kesehatan, usia, hingga biaya operasional yang tinggi semakin memperburuk situasi, namun tetap tidak cukup untuk mendorong perpindahan karena besarnya beban pajak.

Biaya Tambahan yang Membebani

Contohnya, perpindahan dari apartemen seharga £450.000 ke rumah keluarga sederhana seharga £650.000 dapat menimbulkan biaya puluhan ribu pound hanya untuk bea materai. Jumlah ini belum termasuk biaya hukum, biaya pindahan, serta kenaikan suku bunga hipotek.

Bagi banyak rumah tangga, tambahan biaya tersebut secara efektif menggerus tabungan yang telah dikumpulkan selama bertahun-tahun. Akibatnya, rencana untuk meningkatkan kualitas tempat tinggal harus tertunda.

Fenomena ini juga berdampak pada lambatnya perputaran pasar properti. Jika sebelumnya pembeli pertama dapat berpindah ke properti kedua dalam 5 hingga 7 tahun, kini proses tersebut menjadi jauh lebih lama dan jumlah pembeli tahap lanjutan menurun.

Dampak pada Ekonomi Perumahan

Tingginya beban pajak ini dinilai menghambat pergerakan di seluruh rantai pasar perumahan. Padahal, mobilitas yang lancar dapat membantu distribusi hunian yang lebih efisien, di mana rumah kecil dapat tersedia bagi pembeli pertama dan rumah besar dapat dihuni oleh keluarga yang membutuhkan.

Pengalaman saat kebijakan pembebasan sementara bea materai pada 2021 menunjukkan bahwa penghapusan pajak dapat meningkatkan volume transaksi, meskipun tidak secara signifikan mendorong kenaikan harga properti.

Di wilayah London dan Tenggara Inggris, dampak bea materai bahkan dirasakan lebih luas karena harga properti yang tinggi. Rumah dengan dua hingga tiga kamar tidur saja dapat mencapai lebih dari £1 juta, sehingga beban pajaknya menjadi sangat besar.

Dalam kondisi tersebut, keluarga muda harus menghadapi biaya tambahan hingga puluhan ribu pound untuk pindah ke rumah yang lebih sesuai, yang sering kali berada di luar kemampuan finansial mereka.

Melihat kondisi ini, sejumlah pelaku industri properti menilai bahwa penghapusan bea materai dapat menjadi solusi untuk mendorong mobilitas, memperkuat pasar perumahan, serta menciptakan ekonomi yang lebih dinamis.

Exit mobile version