Uang Pajak Bantu Ketahanan Pangan Indonesia

JAKARTA,  – Presiden Prabowo Subianto menegaskan Indonesia berhasil mencatat sejarah baru di sektor pangan. Dalam pidatonya di Sidang Majelis Umum ke-80 PBB, Selasa lalu, Prabowo menyebut produksi beras nasional pada 2025 mencapai titik tertinggi, bahkan Indonesia mulai mengekspor beras.Di balik pencapaian tersebut, ada peran besar uang pajak rakyat yang menopang anggaran ketahanan pangan.

“#UangKita bekerja nyata untuk ketahanan pangan,” tulis Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) dalam unggahan resmi Instagram, dikutip Sabtu (27/9/2025).

Anggaran Ratusan Triliun

Ketahanan pangan menjadi salah satu prioritas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Sekitar 70% APBN bersumber dari penerimaan pajak, sehingga kontribusi wajib pajak sangat vital. Hingga awal September 2025, realisasi anggaran ketahanan pangan telah mencapai Rp73,6 triliun atau 50,9% dari pagu.

Dana ini digunakan untuk memperkuat produksi pangan, mengoptimalkan cadangan, hingga menstabilkan harga. Salah satu fokusnya, Rp14,3 triliun dialokasikan untuk perluasan lahan sawah, bantuan alat mesin pra-panen, hingga pembangunan irigasi.

Baca Juga : Pemerintah Kejar Sisa Utang Pajak Rp5,1 Triliun

Peran Bulog dan Petani

Selain itu, pemerintah juga memperkuat peran Perum Bulog melalui alokasi Rp22,1 triliun. Dana ini dipakai untuk menjaga stabilitas pangan dengan membeli langsung hasil petani. Setidaknya, 488.960 ton beras dan 1,65 juta ton gabah sudah diserap Bulog dari petani. Bahkan, Rp5,5 triliun disiapkan untuk investasi pembelian jagung.

Baca Juga :  Potensi PKB Belum Dibayar Capai Rp361,4 Triliun

Ajakan Kawal Bersama

Karena bersumber dari pajak masyarakat, DJPb mengingatkan pentingnya transparansi dan pengawasan publik atas anggaran ketahanan pangan.

“Yuk, kita kawal bersama agar anggaran ini terus tepat sasaran,” ajak DJPb.

Sumber Terkait:

Exit mobile version