JAKARTA – Angin segar berembus bagi para pelaku usaha berorientasi ekspor. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mengonfirmasi bahwa negosiasi tarif impor resiprokal dengan Amerika Serikat (AS) berjalan sangat positif. Langkah diplomasi dagang ini difokuskan pada sejumlah komoditas unggulan yang selama ini menjadi tulang punggung ekspor Indonesia ke pasar Negeri Paman Sam.
“Hasil negosiasi tarif kita sangat bagus. Nanti ada sedikit surprise. Beberapa komoditas yang ekspornya tinggi sekali ke AS itu, kita berhasil negosiasikan dengan sangat optimal.”
— Susiwijono Moegiarso, Sesmenko Perekonomian
Pemerintah mengakui bahwa proses perundingan dilakukan dengan tingkat kehati-hatian yang tinggi mengingat dampaknya yang masif terhadap stabilitas ekonomi nasional. Meski demikian, hasil yang dicapai disebut-sebut bakal memberikan ruang napas yang luas bagi daya saing produk lokal di kancah global.
Privilese untuk Sektor Vital
Meskipun rincian komoditas masih dirahasiakan sebelum pengumuman resmi, pemerintah memberi sinyal bahwa sektor-sektor dengan volume ekspor tertinggi akan mendapatkan *privilege* khusus. Negosiasi dengan United States Trade Representative (USTR) ini diharapkan mampu memangkas hambatan tarif yang selama ini menjadi tantangan.
Sebagai catatan, pada April 2025 lalu, AS sempat menetapkan tarif bea masuk impor produk Indonesia sebesar 19%. Upaya negosiasi yang telah berjalan hampir setahun ini bertujuan untuk menyeimbangkan kembali neraca perdagangan dan memberikan kepastian hukum bagi para eksportir.
Menanti Tanda Tangan Presiden
Penyelesaian kesepakatan ini ditargetkan rampung pada bulan depan. Saat ini, draf perjanjian yang dikenal dengan Agreement on Respectful Trade tersebut telah sampai di meja kepresidenan untuk tahap finalisasi.
Target Kesepakatan: Perincian kerja sama perdagangan internasional ini akan diumumkan langsung oleh Menko Perekonomian Airlangga Hartarto setelah mendapatkan persetujuan dari Presiden.
Jika kesepakatan ini resmi ditandatangani, Indonesia berpotensi memperkuat posisinya sebagai mitra dagang utama AS di kawasan Asia Tenggara, sekaligus mengamankan pangsa pasar komoditas strategis di tengah dinamika ekonomi global yang fluktuatif.
