Dukung Program MBG, Pabrik Susu Ultrajaya Investasi Rp1,14 Triliun

JAKARTA – Indonesia kembali kedatangan fasilitas industri pengolahan susu dengan nilai investasi mencapai Rp1,14 triliun. Investasi tersebut diarahkan untuk meningkatkan kapasitas produksi sekaligus penerapan teknologi industri 4.0.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan bahwa industri pengolahan susu memiliki peran strategis dalam menjamin ketersediaan pangan bergizi nasional. Menurutnya, penguatan kapasitas dan teknologi industri menjadi bagian penting dalam mendukung program prioritas pemerintah, termasuk program makan bergizi gratis (MBG).

“Industri pengolahan susu nasional harus mampu menjawab kebutuhan program MBG, baik dari sisi kapasitas produksi, kualitas produk, maupun keberlanjutan pasokan bahan baku,” ujar Agus, dikutip Minggu (25/1/2026).

Investasi senilai Rp1,14 triliun tersebut berasal dari PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk. Perusahaan ini telah mengoperasikan pabrik barunya di Kawasan Industri MM2100, Cibitung, Jawa Barat, pada 8 Desember 2025.

Pabrik tersebut memiliki tiga lini produksi yang difokuskan untuk menghasilkan susu UHT dalam kemasan 125 ml dan 200 ml. Seluruh lini produksi tersebut dirancang khusus untuk mendukung kebutuhan Program MBG.

Meski demikian, penambahan lini produksi lanjutan direncanakan baru akan dilakukan pada Maret 2026. Ke depan, Kementerian Perindustrian juga mendorong industri pengolahan susu untuk terus berinvestasi serta menjalin kemitraan dengan peternak sapi perah dalam negeri.

Pada kesempatan yang sama, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Putu Juli Ardika menyampaikan bahwa pabrik Ultrajaya telah mengadopsi teknologi industri 4.0.

“Penerapan teknologi industri 4.0 terbukti mampu meningkatkan efisiensi, menghemat energi, meningkatkan produktivitas dan daya saing, serta menjaga kualitas produk,” kata Putu.

Adapun teknologi yang diterapkan di antaranya Automated Guided Vehicle (AGV), autopilot forklift, Manufacturing Execution System (MES), serta sistem manajemen gudang berbasis Automated Storage and Retrieval System (ASRS).

Selain itu, pabrik susu UHT tersebut juga dilengkapi fasilitas pengolahan limbah cair melalui Waste Water Treatment Plant (WWTP) dengan sistem ultrafiltration, sehingga sebagian besar limbah cair dapat didaur ulang dan dimanfaatkan kembali dalam proses produksi.

Ke depan, Kemenperin juga mendorong PT Ultrajaya untuk meningkatkan pemanfaatan susu segar dalam negeri guna memenuhi kebutuhan Program MBG. Selain itu, perusahaan diminta mengikuti seleksi National Lighthouse Industry 4.0 sebagai percontohan industri pengolahan susu berbasis teknologi dan otomasi.

“Melalui penguatan investasi, penerapan teknologi digital, serta sinergi dengan peternak dan koperasi susu, kami optimistis industri pengolahan susu nasional dapat mendukung ketahanan pangan, meningkatkan nilai tambah dalam negeri, dan menyukseskan Program MBG secara berkelanjutan,” tutur Putu.

Exit mobile version