JAKARTA – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai penurunan surplus neraca perdagangan pada Oktober 2025 merupakan indikator positif bahwa permintaan domestik mulai pulih. Menurutnya, surplus dagang yang terlalu besar justru menunjukkan lemahnya konsumsi dalam negeri.
“Kalau surplusnya menyusut tapi tetap surplus, itu sinyal perbaikan domestic demand. Jangan lihat satu titik saja, lihat tren beberapa bulan ke depan.”
— Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan
Purbaya menegaskan bahwa pemulihan permintaan dalam negeri merupakan pilar penting bagi stabilitas ekonomi nasional. Dengan penguatan konsumsi rumah tangga dan aktivitas produksi, pemerintah optimistis ekonomi Indonesia dapat kembali ke jalur pertumbuhan normal.
Baca juga: Bea Cukai Gencarkan Razia Rokok Ilegal
Surplus Menyusut, Tapi Masih Kuat
Berdasarkan data terbaru, surplus neraca perdagangan Indonesia pada Oktober 2025 tercatat sebesar US$2,39 miliar. Angka ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan surplus bulan sebelumnya yang mencapai US$4,34 miliar.
Kendati terjadi penurunan signifikan, Indonesia masih mempertahankan tren surplus selama 66 bulan berturut-turut. Tren panjang ini menunjukkan kinerja ekspor nonmigas yang masih kuat, sekaligus perbaikan permintaan impor yang menandakan aktivitas ekonomi dalam negeri semakin hidup.
Baca juga: Operasi Pajak Kendaraan Jaring 519 Unit dalam Sehari
Komoditas Penyumbang Terbesar
Surplus pada Oktober 2025 ditopang oleh komoditas-komoditas nonmigas unggulan, antara lain:
- Lemak & minyak hewani/nabati (HS 15)
- Bahan bakar mineral (HS 27)
- Besi dan baja (HS 72)
Pertumbuhan ekspor dari sektor-sektor tersebut memberi bantalan kuat bagi neraca dagang, terutama di tengah dinamika harga komoditas global.
Surplus Kumulatif Tetap Tinggi
Secara kumulatif, surplus perdagangan Januari–Oktober 2025 mencapai US$35,88 miliar. Angka ini jauh lebih tinggi daripada periode yang sama tahun 2024 yang hanya mencapai US$24,89 miliar.
Lonjakan ini mencerminkan ketahanan sektor eksternal Indonesia serta kemampuan ekspor nasional bertahan di tengah perlambatan global.
“Pemulihan permintaan domestik beriringan dengan stabilnya kinerja ekspor. Keduanya menjadi mesin ganda bagi pertumbuhan ekonomi.”
