JAKARTA – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan optimisme pemerintah terhadap percepatan laju ekonomi nasional melalui pertumbuhan base money atau M0 yang tetap tinggi. Purbaya mengeklaim bahwa tren positif pada M0 akan menjadi katalisator bagi pertumbuhan kredit perbankan dalam waktu dekat, dengan target mencapai level 15%.
Menurutnya, kondisi ini akan menandai era baru bagi perekonomian Indonesia. Purbaya membandingkan proyeksi ini dengan performa satu dekade terakhir, di mana pertumbuhan kredit cenderung stagnan di angka satu digit.
“Artinya kita akan melihat keadaan ekonomi yang berbeda dibanding keadaan 10 tahun terakhir ketika pertumbuhan kredit hanya sekitar 7%.”
— Purbaya Yudhi Sadewa (Menteri Keuangan)
Sinkronisasi Kebijakan Fiskal dan Moneter
M0, yang mencakup uang kartal dan giro bank umum di Bank Indonesia (BI), tercatat tumbuh 11,4% pada Desember 2025. Purbaya menilai pencapaian ini merupakan hasil nyata dari koordinasi yang kian harmonis antara kebijakan fiskal kementeriannya dengan kebijakan moneter BI. Pertumbuhan M0 yang terjaga di level tinggi diyakini akan secara otomatis mendongkrak uang beredar (M2) seiring meningkatnya aktivitas pembiayaan.
Sinkronisasi ini diharapkan mampu mendobrak hambatan penyaluran dana ke sektor riil. Purbaya meyakini bahwa ketersediaan likuiditas yang memadai di pasar akan memicu perbankan untuk lebih ekspansif dalam menyalurkan kredit.
Tantangan ‘Undisbursed Loan’ dan Risiko Sektor UMKM
Meski likuiditas melimpah, tantangan besar masih membayangi dari sisi penyerapan. Data menunjukkan adanya undisbursed loan atau kredit yang belum digunakan mencapai Rp2.439,2 triliun, setara dengan 22,12% dari total plafon kredit yang tersedia. Hal ini mengindikasikan bahwa meski pasokan uang tersedia, permintaan riil dari sektor usaha masih tertahan.
Di sisi penawaran, perbankan terpantau masih bersikap selektif, terutama pada segmen kredit konsumsi dan UMKM. Tingginya risiko gagal bayar pada kedua sektor ini membuat minat penyaluran kredit belum optimal meski likuiditas M0 sudah mencukupi.
Hambatan Kredit: Penyerapan modal masih terkendala oleh tingginya angka plafon kredit yang tidak terpakai serta kehati-hatian bank pada sektor dengan profil risiko tinggi.
