JAKARTA – Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) melaporkan capaian gemilang realisasi investasi sepanjang tahun 2025. Total investasi tercatat menembus angka Rp1.931,2 triliun, tumbuh signifikan sebesar 12,7 persen dibandingkan periode tahun sebelumnya (year-on-year/yoy).
Lonjakan ini tidak lepas dari peran strategis Danantara yang mulai menunjukkan taringnya dalam mengakselerasi perekonomian nasional. Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Roeslani, mengungkapkan bahwa aktivitas penanaman modal oleh Danantara menjadi katalis utama, khususnya dalam mendongkrak Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN).
“Menurut kami, peningkatan year on year di dalam negeri akan lebih meningkat karena akselerasi yang kita lakukan di Danantara.”
— Rosan Roeslani, Menteri Investasi & Hilirisasi
Baca Juga: Dwelling Time 2025 Membaik, Bongkar Muat Rata-rata 3,02 Hari, Customs Clearance Turun Jadi 0,42 Hari
PMDN Meroket, Asing Stagnan
Data BKPM menunjukkan adanya disparitas pertumbuhan yang menarik antara investasi domestik dan asing. Realisasi PMDN pada 2025 mencatatkan kinerja impresif dengan capaian Rp1.030,3 triliun, atau tumbuh 26,6 persen dibandingkan tahun 2024. Angka ini mengindikasikan semakin kuatnya kepercayaan investor lokal dan peran institusi domestik.
Sebaliknya, arus Penanaman Modal Asing (PMA) cenderung stagnan. Realisasi PMA tercatat sebesar Rp900,9 triliun, hanya tumbuh tipis 0,1 persen. Kondisi ini menegaskan betapa krusialnya intervensi Danantara dalam menjaga momentum pertumbuhan investasi nasional di saat arus modal asing melambat.
Strategi Tandem Investasi 2026
Menatap tahun 2026, pemerintah tidak akan mengendurkan gas. Rosan menegaskan bahwa peran Danantara akan semakin diperluas ke sektor-sektor strategis seperti kesehatan, hilirisasi, dan industri kimia. Setelah fase persiapan sumber daya manusia dan regulasi rampung pada Oktober tahun lalu, Danantara kini siap berekspansi lebih agresif.
Lebih lanjut, Rosan memastikan kehadiran Danantara tidak akan mematikan investasi asing (crowding out). Justru, lembaga ini dirancang untuk menjadi mitra strategis yang bisa “tandem” dengan investor global. Skema kemitraan ini diharapkan memberikan rasa aman dan kepercayaan lebih bagi pemodal asing untuk masuk ke Indonesia.
Confidence Investor: “Dengan investasi yang masuk dari asing bisa tandem dengan Danantara… kita sama-sama taking calculated risk, sehingga peningkatannya Insyaallah terjaga.”
Pemerintah optimistis, dengan sinergi antara modal asing dan kekuatan domestik melalui Danantara, target realisasi investasi—khususnya PMDN—pada 2026 akan kembali mencatatkan tren positif di tengah tantangan ekonomi global.
