Industri Kecil Terdampak Bencana Bakal Dapat Bantuan Mesin dari Pemerintah

JAKARTA – Pemerintah menyiapkan program khusus untuk mempercepat pemulihan industri skala kecil yang terdampak bencana banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Program tersebut dirancang agar aktivitas produksi pelaku industri kecil dapat kembali berjalan secara bertahap dan berkelanjutan.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) akan menerapkan program restarting sebagai bagian dari upaya pemulihan pascabencana. Program ini difokuskan untuk memastikan industri kecil tidak hanya pulih, tetapi juga memiliki daya tahan yang lebih kuat terhadap risiko bencana di masa mendatang.

Melalui program restarting ini, kami berharap pemulihan industri kecil tidak hanya mengembalikan kapasitas produksi seperti sebelum bencana, tetapi juga memperkuat ketahanan dan keberlanjutan usaha agar lebih siap menghadapi risiko di masa mendatang.

— Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, Senin (5/1/2026)

Langkah ini sejalan dengan strategi pemerintah dalam memperkuat struktur industri nasional, khususnya sektor industri kecil yang menjadi tulang punggung perekonomian daerah.

Bantuan Mesin dan Starter Kit Usaha

Melalui program restarting, Kemenperin akan menyalurkan berbagai bentuk bantuan bagi industri kecil terdampak bencana. Bantuan tersebut meliputi mesin dan peralatan sederhana, serta starter kit usaha yang mencakup bahan baku untuk mendukung keberlanjutan produksi.

Selain dukungan peralatan, pemerintah juga akan mendorong pengembangan produk kebutuhan dasar dan produk fast moving, memberikan pendampingan teknis, serta memfasilitasi kemitraan guna memperluas akses pasar bagi pelaku industri kecil.

Rencana pemulihan industri kecil pascabencana akan dilaksanakan secara bertahap dan terukur agar bantuan tepat sasaran dan berdampak nyata.

Pendataan dan Sinergi Lintas Kementerian

Pada 2025, Kemenperin telah melakukan pendataan awal terhadap industri kecil yang terdampak bencana sekaligus memetakan kebutuhan pemulihan. Memasuki 2026, proses pemetaan tersebut dilanjutkan untuk menetapkan industri kecil yang berhak menerima bantuan.

Agus menambahkan, bantuan teknis juga akan diberikan melalui optimalisasi program kewirausahaan di daerah terdampak. Pendampingan dilakukan melalui penugasan dan sinergi lintas kementerian dan lembaga, antara lain melalui Inpres Penghapusan Kemiskinan Ekstrem (PKE), Rencana Aksi Nasional Pascabencana, serta Klinik UMKM Bangkit.

Lebih dari 2.000 IKM Terdampak

Berdasarkan data Kemenperin hingga 30 Desember 2025, tercatat sedikitnya 2.066 industri kecil dan menengah (IKM) mengalami dampak paling besar akibat bencana banjir dan longsor. Jumlah tersebut terdiri atas 1.647 industri di Aceh, 367 industri di Sumatera Barat, dan 52 industri di Sumatera Utara.

Industri manufaktur yang terdampak tidak hanya mengalami kerusakan fisik fasilitas produksi, tetapi juga gangguan sistemik pada rantai pasok dan logistik. Dampak tersebut antara lain berupa terputusnya akses jalan dan jembatan, terganggunya distribusi BBM, serta ketidakstabilan pasokan listrik dan air.

Akibat kondisi tersebut, banyak industri pengolahan terpaksa menghentikan sementara kegiatan produksi atau mengalami penurunan kapasitas. Dalam jangka pendek, dampak paling besar dirasakan oleh subsektor yang sangat bergantung pada kelancaran distribusi, seperti agroindustri, makanan dan minuman, kimia dasar, serta industri berbasis komoditas.

Bencana harus dipahami sebagai supply-side shock yang dampaknya cepat menyebar dan berpotensi menahan pemulihan ekonomi jika tidak ditangani secara terkoordinasi.


Exit mobile version