Masih Jadi Penopang? Konsumsi Rumah Tangga Tumbuh 4,98% di 2025

JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat konsumsi rumah tangga sepanjang 2025 tumbuh sebesar 4,98%. Meski masih mencatatkan pertumbuhan positif, angka tersebut menunjukkan kecenderungan stagnan jika dibandingkan dengan kinerja konsumsi dalam empat tahun terakhir.

Namun demikian, konsumsi rumah tangga tetap memegang peran krusial sebagai penopang utama perekonomian nasional. Pada 2025, ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,11%, dengan kontribusi konsumsi rumah tangga mencapai 53,88% terhadap total produk domestik bruto (PDB). Artinya, lebih dari separuh aktivitas ekonomi nasional masih bersumber dari belanja masyarakat.

“Konsumsi rumah tangga terus tumbuh seiring meningkatnya aktivitas dan mobilitas masyarakat. Kelompok konsumsi yang tumbuh tinggi antara lain adalah restoran dan hotel.”

Amalia Adininggar Widyasanti, Kepala BPS

Restoran, Hotel, dan Transportasi Jadi Motor Konsumsi

Amalia menjelaskan, lonjakan konsumsi rumah tangga paling besar terjadi pada pengeluaran restoran dan hotel yang tumbuh sebesar 6,38%. Kinerja ini didorong oleh meningkatnya aktivitas wisata selama periode libur, terutama perjalanan wisata yang dilakukan oleh wisatawan domestik.

Selain itu, konsumsi pada sektor transportasi dan komunikasi juga mencatat pertumbuhan tinggi sebesar 6,32%. Pertumbuhan ini sejalan dengan meningkatnya mobilitas masyarakat serta adanya berbagai stimulus di sektor transportasi, seperti diskon tarif tol dan potongan harga tiket moda transportasi darat, laut, dan udara.

Investasi dan Ekspor Ikut Menguat

Di luar konsumsi, komponen pengeluaran lain yang turut mendorong pertumbuhan ekonomi adalah pembentukan modal tetap bruto (PMTB) atau investasi. Pada 2025, PMTB tumbuh sebesar 5,09% dan berkontribusi 28,77% terhadap PDB.

Menurut Amalia, pertumbuhan investasi tercermin dari meningkatnya impor barang modal seperti mesin, membaiknya kinerja produksi industri mesin, serta meningkatnya belanja pemerintah untuk peralatan mesin dan impor kendaraan.

Sementara itu, komponen ekspor mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 7,03% dan berkontribusi 22,85% terhadap PDB. Kinerja ekspor ditopang oleh peningkatan nilai dan volume ekspor barang nonmigas serta ekspor jasa.

“Beberapa komoditas yang mengalami peningkatan nilai maupun volume ekspornya antara lain CPO, besi dan baja, mesin dan peralatan listrik, serta kendaraan dan bagiannya. Ekspor jasa juga meningkat, salah satunya karena adanya kenaikan kunjungan wisatawan mancanegara,” papar Amalia.

Di sisi lain, konsumsi pemerintah tumbuh sebesar 2,50% dengan kontribusi 7,53% terhadap PDB, sementara konsumsi lembaga non-profit yang melayani rumah tangga (LNPRT) tumbuh 5,13% dan menyumbang 1,35% terhadap perekonomian. Adapun impor tumbuh 4,77% dan memberikan kontribusi negatif sebesar minus 20,54% terhadap PDB.

BPS menegaskan, dari sisi pengeluaran, seluruh komponen pembentuk PDB tumbuh positif sepanjang 2025, dengan konsumsi rumah tangga tetap menjadi komponen dengan distribusi terbesar.

Exit mobile version