MADRID – Pemerintah Spanyol mengusulkan pembentukan dana adaptasi iklim permanen Uni Eropa yang salah satu sumber pendanaannya berasal dari windfall tax perusahaan migas. Selain itu, Spanyol mengusulkan pengenaan pajak terhadap penerbangan jet pribadi.
Usulan tersebut disampaikan Kementerian Transisi Ekologi Spanyol kepada Komisaris Iklim Uni Eropa Wopke Hoekstra pada pekan lalu. Penyampaian proposal berlangsung ketika Komisi Eropa tengah menyiapkan kerangka terpadu untuk memperkuat ketahanan iklim di kawasan tersebut.
Menteri Transisi Ekologi Spanyol Sara Aagesen mengatakan Uni Eropa tidak dapat terus-menerus hanya menghitung kerugian yang ditimbulkan oleh bencana iklim. Menurutnya, diperlukan kebijakan yang mampu mengantisipasi berbagai risiko tersebut.
“Kita tidak bisa terus sekadar menghitung kerugian. Sudah waktunya untuk mengantisipasinya,” kata Aagesen, dikutip pada Rabu (9/9/2026).
Sistem Tanggap Darurat Iklim Permanen
Pemerintah Spanyol mengusulkan pembentukan sistem tanggap darurat iklim permanen pada tingkat Uni Eropa. Sistem tersebut akan mereformasi mekanisme yang sudah ada menjadi kapasitas tanggap terintegrasi yang dapat dikerahkan dengan cepat.
Pelaksanaannya akan didukung oleh sumber daya bersama dalam jumlah lebih besar. Sumber daya tersebut antara lain dapat digunakan untuk membentuk armada pemadam kebakaran udara khusus pada tingkat Eropa.
Untuk mendanai kebutuhan tersebut, Spanyol mengusulkan sejumlah mekanisme pendapatan baru. Salah satunya berupa pajak atas penerbangan mewah serta windfall tax atas laba perusahaan minyak dan gas.
Selain mengandalkan penerimaan pajak, pemerintah Spanyol juga mengusulkan penerbitan utang bersama Uni Eropa. Dana yang dihimpun melalui skema tersebut diharapkan dapat digunakan untuk menutup kesenjangan pendanaan program adaptasi iklim.
Eropa Hadapi Dampak Cuaca Ekstrem
Proposal tersebut disampaikan setelah gelombang panas ekstrem, kekeringan, dan kebakaran hutan melanda sejumlah wilayah Eropa pada musim panas tahun ini. Spanyol bahkan mengalami musim panas terpanas sepanjang sejarah.
Lebih dari 5.000 kematian di Spanyol dikaitkan dengan suhu tinggi. Aagesen juga mengatakan Eropa mengalami pemanasan lebih cepat dibandingkan benua lainnya, yakni sekitar dua kali lipat dari rata-rata pemanasan global.
“Sejumlah negara anggota sangat rentan, dan pendekatan reaktif tidak cukup untuk mengatasi risiko tersebut,” ujar Aagesen.
Berdasarkan dokumen proposal Spanyol, negara-negara anggota Uni Eropa mengalami kerugian sekitar €208 miliar atau sekitar Rp4.236,37 triliun akibat cuaca ekstrem dan berbagai kejadian terkait perubahan iklim selama periode 2021 hingga 2024.
Selain membahas pendanaan, Spanyol mengusulkan agar Uni Eropa menetapkan target adaptasi iklim yang mengikat. Risiko perubahan iklim juga diusulkan untuk diperhitungkan secara sistematis dalam setiap keputusan yang berkaitan dengan pembangunan infrastruktur, investasi, dan perencanaan.
Lima Negara Pernah Dorong Windfall Tax Energi
Pada April lalu, Spanyol juga bergabung dengan empat negara lainnya untuk mendorong Uni Eropa mengenakan windfall tax atas keuntungan luar biasa yang dinikmati perusahaan energi di tengah lonjakan harga minyak mentah dunia.
Menteri keuangan dan ekonomi dari kelima negara tersebut berargumen bahwa perusahaan energi telah meraup banyak keuntungan berkat kenaikan harga bahan bakar minyak. Karena itu, perusahaan-perusahaan tersebut dinilai memiliki kewajiban untuk membantu meringankan beban ekonomi yang ditanggung konsumen.
Tambahan penerimaan dari windfall tax dinilai dapat digunakan untuk membantu mengendalikan kenaikan harga bahan bakar minyak. Dalam proposal terbaru Spanyol, windfall tax perusahaan migas juga dipandang sebagai salah satu sumber dana untuk memperkuat kemampuan Uni Eropa menghadapi risiko perubahan iklim.
Meski demikian, Komisi Eropa berpandangan bahwa pengenaan windfall tax terhadap sektor energi merupakan kewenangan masing-masing negara anggota. Kebijakan tersebut bukan pajak yang akan diterapkan secara seragam di seluruh Uni Eropa.
