website Berita Pajak TerUpdate Cepat, Akurat, dan Mendalam."
No Result
View All Result
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
    • Info Grafis
    • Pandu News
  • Literasi Perpajakan
    • Edukasi Perpajakan
    • Panduan Pajak
  • PajakNow Tools
    • Kurs Pajak
    • Narasi Data Pajak
    • Tarif bunga dan sanksi pajak
  • Putusan dan Analisis
    • Analisis dan insight
    • Putusan Pengadilan Pajak
Saturday, 31 October 2026
Putusan Pajak
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
    • Info Grafis
    • Pandu News
  • Literasi Perpajakan
    • Edukasi Perpajakan
    • Panduan Pajak
  • PajakNow Tools
    • Kurs Pajak
    • Narasi Data Pajak
    • Tarif bunga dan sanksi pajak
  • Putusan dan Analisis
    • Analisis dan insight
    • Putusan Pengadilan Pajak
No Result
View All Result
website Berita Pajak TerUpdate Cepat, Akurat, dan Mendalam."
No Result
View All Result
Home Berita Nasional

OECD: Tax Ratio Rendah Bisa Hambat Pendanaan MBG dan Program Prioritas

Johannes Albert by Johannes Albert
December 8, 2025
in Nasional
0 0
0
Didanai Pajak, BGN Akan Tutup Dapur MBG Tanpa Sertifikat Higiene
0
SHARES
12
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

JAKARTA — Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) menegaskan bahwa peningkatan rasio perpajakan (tax ratio) menjadi syarat penting bagi Indonesia untuk dapat mendanai berbagai program prioritas pemerintah, termasuk program makan bergizi gratis (MBG) dan agenda investasi publik lainnya.

Kepala Desk Indonesia dan Filipina OECD, Cyrille Schwellnus, menyampaikan bahwa tax ratio Indonesia masih berada di kisaran 10%, salah satu yang terendah di antara banyak negara berkembang. Kondisi ini dinilai belum memadai untuk menopang kebutuhan belanja pemerintah yang terus meningkat.

“Rasio pajak Indonesia sangat rendah, sekitar 10%. Untuk mewujudkan prioritas pemerintah dalam investasi publik dan perluasan bansos, perlu ada lebih banyak mobilisasi pendapatan.”

— Cyrille Schwellnus, OECD

Menurut Schwellnus, penguatan tax ratio menjadi krusial agar pemerintah memiliki ruang fiskal yang cukup untuk mendanai berbagai program, mulai dari MBG hingga perluasan perlindungan sosial dan pembangunan infrastruktur strategis tanpa mengorbankan stabilitas makroekonomi yang telah terjaga selama ini.

Salah satu langkah strategis yang disorot OECD adalah memperluas basis pemajakan dengan mengurangi pengecualian PPN. Dengan cara ini, pemerintah dapat meningkatkan penerimaan pajak tanpa harus langsung menaikkan tarif pajak yang sudah ada.

Meski demikian, Schwellnus menilai Indonesia masih memiliki ruang untuk penyesuaian tarif secara terbatas apabila suatu saat dibutuhkan, sepanjang kebijakan tersebut dirancang hati-hati agar tidak membebani perekonomian dan dunia usaha.

Baca Juga: Bali Mulai Kaji Dampak Airbnb Terhadap Penerimaan Pajak

Mobilisasi Pendapatan Tanpa Menambah Utang

Lebih lanjut, Schwellnus menekankan bahwa kombinasi antara perluasan basis pajak dan kemungkinan penyesuaian tarif secara minimal dapat membantu Indonesia memenuhi kebutuhan pembiayaan program prioritas tanpa meningkatkan rasio utang maupun defisit anggaran.

Ia mengapresiasi disiplin fiskal Indonesia selama beberapa dekade terakhir yang dinilai telah membantu menjaga stabilitas ekonomi makro. Namun, di tengah meningkatnya kebutuhan belanja, penguatan penerimaan pajak dipandang menjadi pilihan yang lebih sehat dibanding memperbesar ketergantungan pada utang.

“Kami meyakini rasio utang Indonesia masih baik-baik saja, namun tidak perlu naik. Mobilisasi pendapatan lebih penting untuk mendukung belanja prioritas.”

— Cyrille Schwellnus

Dengan tax ratio yang lebih kuat, pemerintah berpeluang memperkuat pendanaan MBG, memperluas bantuan sosial, serta menjaga keberlanjutan investasi publik tanpa mengganggu kredibilitas kebijakan fiskal.

Peluang dan Tantangan Kebijakan Pajak

Pandangan OECD tersebut pada dasarnya menegaskan kembali pentingnya reformasi perpajakan yang konsisten, baik melalui perbaikan desain kebijakan maupun peningkatan kepatuhan pajak. Di tengah dinamika ekonomi global, ruang fiskal yang cukup menjadi kunci agar Indonesia dapat merespons berbagai tantangan, termasuk pembiayaan program-program baru yang bersifat populis maupun jangka panjang.

Ke depan, diskursus publik soal tax ratio, keadilan pajak, dan desain insentif yang tepat diperkirakan akan semakin mengemuka, terlebih ketika pemerintah terus mendorong agenda pembangunan dan perlindungan sosial yang ambisius.

Sumber Terkait

  • Kementerian Keuangan Republik Indonesia
  • Direktorat Jenderal Pajak
  • OECD Indonesia Desk – pernyataan dan analisis kebijakan fiskal melalui kanal resmi OECD
Johannes Albert

Johannes Albert

Stay Connected test

  • 24k Followers
  • 99 Subscribers
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Begini Cara Update Data Pemegang Saham di Sistem Coretax

Mudah dan Cepat! Ini Cara Ambil e-SPPT PBB Jakarta Secara Online

April 23, 2026
Aturan Baru DHE SDA Mulai Berlaku 1 Juni 2026

Aturan Baru DHE SDA Mulai Berlaku 1 Juni 2026

May 18, 2026
PBPK Jadi Tonggak Baru Keseragaman Pelaporan Keuangan Nasional

Email Tak Aktif Saat Aktivasi Coretax? Ini Solusi Resmi dari DJP

December 30, 2025
Begini Cara Update Data Pemegang Saham di Sistem Coretax

Ketentuan Baru Pelaporan Struktur Manajemen Perusahaan dalam Coretax.

April 30, 2026
Pemutihan Pajak Kendaraan 2026: Ada Diskon hingga Penghapusan Denda

Pemutihan Pajak Kendaraan 2026: Ada Diskon hingga Penghapusan Denda

15
Integrasi Data Tanah, Parigi Moutong Bidik Potensi Pajak Baru

Integrasi Data Tanah, Parigi Moutong Bidik Potensi Pajak Baru

10
Restitusi Pajak Tembus Rp198,71 Triliun, PPN dan PPnBM Mendominasi

Restitusi Pajak Tembus Rp198,71 Triliun, PPN dan PPnBM Mendominasi

6
Memahami Penghitungan PPh Final bagi Pengusaha Kecil pada 2026

Memahami Penghitungan PPh Final bagi Pengusaha Kecil pada 2026

5
Diskon Tarif Bandara 50% Berlaku di 36 Bandara Saat Nataru

Diskon Tarif Bandara 50% Berlaku di 36 Bandara Saat Nataru

October 31, 2026

Edukasi Pajak Sejak Dini Diperkenalkan kepada Siswa Banyuasin

October 31, 2026
Pajak Offshore China 20% Ubah Strategi Aset ke AS

Pajak Offshore China 20% Ubah Strategi Aset ke AS

October 31, 2026
DTA Jersey-Oman Diteken, Investasi Dua Arah Didorong

DTA Jersey-Oman Diteken, Investasi Dua Arah Didorong

October 30, 2026

Recent News

Diskon Tarif Bandara 50% Berlaku di 36 Bandara Saat Nataru

Diskon Tarif Bandara 50% Berlaku di 36 Bandara Saat Nataru

October 31, 2026

Edukasi Pajak Sejak Dini Diperkenalkan kepada Siswa Banyuasin

October 31, 2026
Pajak Offshore China 20% Ubah Strategi Aset ke AS

Pajak Offshore China 20% Ubah Strategi Aset ke AS

October 31, 2026
DTA Jersey-Oman Diteken, Investasi Dua Arah Didorong

DTA Jersey-Oman Diteken, Investasi Dua Arah Didorong

October 30, 2026

Menu

  • Home
  • Berita
  • Literasi Perpajakan
  • Putusan dan Analisis
  • PajakNow Tools

Layanan Informasi

  • Pedoman Media Siber
  • Hak Cipta
  • Kebijakan Privasi
  • Media Partner
  • Hubungi
  • Disclaimer

© 2026 pajaknow.id - Berita Pajak yang Akurat, Cepat dan Lengkap.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
    • Info Grafis
    • Pandu News
  • Literasi Perpajakan
    • Edukasi Perpajakan
    • Panduan Pajak
  • PajakNow Tools
    • Kurs Pajak
    • Narasi Data Pajak
    • Tarif bunga dan sanksi pajak
  • Putusan dan Analisis
    • Analisis dan insight
    • Putusan Pengadilan Pajak

© 2026 pajaknow.id - Berita Pajak yang Akurat, Cepat dan Lengkap

Go to mobile version