JAKARTA – Lonjakan harga minyak mentah global mulai berdampak signifikan pada sektor penerbangan tanah air. Per April 2026, pemerintah resmi menyesuaikan harga bahan bakar pesawat (avtur) di berbagai bandara Indonesia. Langkah ini diambil mengikuti perkembangan pasar internasional dan gejolak geopolitik yang masih berlangsung.
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan bahwa kenaikan ini tak terhindarkan karena avtur merupakan BBM nonsubsidi. Di Bandara Soekarno-Hatta, harga avtur melambung menjadi Rp23.551 per liter, naik drastis sebesar 72,45% dibandingkan bulan Maret lalu.
Dampak Kenaikan Harga Avtur Terhadap Tiket Pesawat
Kenaikan harga bahan bakar ini dipastikan akan memengaruhi harga tiket pesawat domestik. Mengingat komponen avtur berkontribusi sekitar 40% dari total biaya operasional pesawat, pemerintah pun menyetujui kenaikan fuel surcharge sebesar 38% baik untuk pesawat jenis propeller maupun jet.
“Jadi, yang pemerintah jaga adalah harga tiketnya agar tetap terjangkau. Kementerian Perhubungan menaikkan fuel surcharge sebagai langkah penyesuaian operasional maskapai,” ujar Airlangga dalam konferensi pers, Selasa (7/4/2026).
“Pemerintah menyiapkan langkah mitigasi agar kenaikan tiket pesawat domestik hanya berada di kisaran 9% hingga 13% dari harga normal.”
— Airlangga Hartarto, Menko Perekonomian
4 Kebijakan Mitigasi Pemerintah: Insentif Pajak dan Bea Masuk
Untuk melindungi daya beli masyarakat dan menjaga keberlanjutan industri aviasi, pemerintah menempuh empat kebijakan strategis:
- PPN DTP 11%: Pemberian insentif PPN ditanggung pemerintah sebesar 11% untuk tiket angkutan udara niaga kelas ekonomi dalam negeri selama 2 bulan.
- Evaluasi Geopolitik: Terus memantau dampak perang di Timur Tengah terhadap stabilitas ekonomi nasional.
- Relaksasi Pembayaran: Pertamina akan memberikan skema pembayaran B2B yang lebih fleksibel kepada maskapai penerbangan.
- Bea Masuk 0%: Pemberian insentif bea masuk nol persen untuk impor suku cadang pesawat guna meningkatkan daya saing industri MRO Indonesia.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menambahkan bahwa koordinasi intensif dengan seluruh maskapai telah dilakukan. Target utamanya adalah menciptakan keseimbangan antara biaya operasional perusahaan penerbangan dan kemampuan bayar penumpang agar sektor pariwisata dan logistik nasional tetap bergerak.
