“Kalau China dikenakan tarif 100%, otomatis barang kita jadi lebih bersaing di Amerika. Biar saja mereka berantem, kita untung.” — Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan
Purbaya menilai perang tarif antara dua raksasa ekonomi dunia ini tidak akan berdampak negatif terhadap ekonomi domestik. Sebaliknya, ia menilai Indonesia bisa memanfaatkan momentum ini untuk memperluas akses ekspor dan memperkuat daya saing industri nasional di pasar global.
Baca Juga: Purbaya Tegaskan APBN Tak Digunakan untuk Pusat Keuangan & Family Office
Dampak ke IHSG dan Sentimen Pasar
Meski optimistis terhadap sektor riil, Purbaya juga memantau dampak perang tarif terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Ia memperkirakan seharusnya pasar saham Indonesia merespons positif, namun tetap berhati-hati terhadap potensi sentimen negatif dari pasar global.
“Dampaknya ke IHSG harusnya positif. Tapi kalau investor melihat pasar saham China jatuh, bisa muncul kekhawatiran yang menyeret pasar lain, termasuk Indonesia,” ujarnya.
Baca Juga: Sidak, Purbaya Pastikan Jalur Hijau Impor Berjalan Bersih
AS Naikkan Tarif 100%, RI Siap Ambil Peluang
Sebagai informasi, keputusan AS untuk menaikkan bea masuk tambahan hingga 100% merupakan respons terhadap kebijakan China yang akan memperketat ekspor rare earth atau logam tanah jarang mulai 1 November 2025. Langkah ini memicu ketegangan baru antara kedua negara yang sudah lama bersaing dalam bidang ekonomi dan teknologi.
Presiden AS Donald Trump mengatakan pemberlakuan bea masuk tersebut dapat diberlakukan lebih cepat dari jadwal. Jika diterapkan, total bea masuk barang impor asal China ke AS bisa mencapai 130%.
“Mulai 1 November atau lebih cepat, AS akan menerapkan bea masuk sebesar 100% terhadap China, di atas bea masuk apa pun yang saat ini mereka bayar.” — Donald Trump, Presiden AS
Purbaya menilai, kebijakan tersebut sejalan dengan strategi global yang bisa dimanfaatkan Indonesia untuk mengisi kekosongan pasokan di pasar AS. Ia juga menyebut pemerintah tengah memetakan sektor-sektor industri yang paling potensial untuk menembus pasar ekspor baru.
Selain sektor manufaktur, peluang juga terbuka bagi komoditas unggulan seperti tekstil, furnitur, alas kaki, dan produk pertanian. Pemerintah, lanjut Purbaya, akan terus menjaga stabilitas fiskal serta menciptakan iklim investasi yang kondusif agar pelaku usaha dapat merespons perubahan global dengan cepat.
