Harta Miliarder Tembus US$18,3 Triliun, Oxfam Desak Pajak Kekayaan Global

DAVOS – Di tengah gemerlap pertemuan elit bisnis dan pemimpin negara pada World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, seruan untuk merombak sistem perpajakan global kembali bergema. Organisasi nirlaba Oxfam secara tegas mendesak penerapan pajak kekayaan yang agresif, merespons data mencengangkan yang menunjukkan lonjakan harta kaum superkaya dunia yang kian tak terkendali.

Tanpa reformasi sistem perpajakan yang lebih adil, jurang kesenjangan ekonomi global diprediksi akan semakin melebar, meninggalkan miliaran penduduk dalam kerentanan ekonomi.

“Pemerintah seharusnya mendengarkan kebutuhan rakyat seperti untuk layanan kesehatan berkualitas, tindakan terhadap perubahan iklim, dan keadilan pajak.”

Amitabh Behar, Direktur Eksekutif Oxfam International

Anomali Ekonomi: Pesta Pora di Tengah Kemiskinan

Dalam laporan terbarunya, Oxfam mencatat statistik yang mengkhawatirkan. Total kekayaan para miliarder dunia melonjak lebih dari 16% sepanjang tahun 2025. Angka pertumbuhan ini tiga kali lebih cepat dibandingkan rata-rata pertumbuhan dalam lima tahun terakhir, membawa total kekayaan mereka ke angka fantastis US$18,3 triliun.

Jika ditarik mundur, kekayaan para miliarder ini telah meroket sebesar 81% dibandingkan lima tahun lalu. Data ini dianggap sebagai anomali ekonomi yang menyakitkan, mengingat realitas di lapangan menunjukkan satu dari empat orang di dunia masih kesulitan mendapatkan makanan secara teratur, dan hampir separuh populasi global hidup dalam jerat kemiskinan.

Melalui laporan bertajuk “Resisting the Rule of the Rich: Protecting Freedom from Billionaire Power”, Oxfam menyoroti bagaimana kaum superkaya mengamankan kekuasaan politik untuk membentuk aturan main ekonomi demi keuntungan pribadi. Laporan tersebut juga mengaitkan lonjakan kekayaan ini dengan kebijakan di Amerika Serikat di bawah pemerintahan Donald Trump yang dinilai pro-miliarder.

Kebijakan pemangkasan pajak bagi korporasi dan individu superkaya, pelemahan upaya pajak global, serta lonjakan saham-saham berbasis kecerdasan buatan (AI) disebut menjadi katalis utama yang memperkaya segelintir investor global.

Fakta Mencolok: Kekayaan kolektif miliarder naik US$2,5 triliun pada 2025, hampir setara dengan total harta milik 4,1 miliar penduduk termiskin di dunia.

Empat Rekomendasi Mendesak

Amitabh Behar memperingatkan bahwa kesenjangan yang melebar menciptakan “defisit politik yang berbahaya”. Data menunjukkan bahwa seorang miliarder memiliki peluang 4.000 kali lebih besar untuk memegang jabatan politik dibandingkan warga negara biasa, yang berpotensi mencederai demokrasi.

Guna meredam dominasi oligarki ini, Oxfam mengajukan empat rekomendasi strategis bagi pemerintahan di seluruh dunia:

  1. Pajak Kekayaan Progresif: Penerapan pajak berbasis pendapatan dan kekayaan dengan tarif tinggi yang efektif untuk mendistribusikan kembali sumber daya.
  2. Rencana Reduksi Ketimpangan: Penyusunan National Inequality Reduction Plans yang terukur, realistis, dan dipantau secara berkala.
  3. Pemisahan Uang dan Politik: Regulasi ketat terhadap lobi, pendanaan kampanye, serta jaminan independensi media.
  4. Penguatan Demokrasi: Jaminan kebebasan berserikat dan berekspresi untuk memberdayakan suara warga negara.
Exit mobile version