Genjot Penerimaan PPN, DJP Awasi Usaha Lewat Coretax

JAKARTA – Direktorat Jenderal Pajak (DJP) mencatatkan lonjakan tajam pada pos Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) sepanjang paruh pertama tahun ini. Hasil pencatatan resmi menunjukkan bahwa realisasi penerimaan PPN dan PPnBM pada semester I/2026 berhasil menyentuh angka Rp380 triliun. Capaian ini melonjak pesat sebesar 42,2% jika dibandingkan dengan perolehan semester I/2025 yang bernilai Rp267,27 triliun.

Direktur Jenderal Pajak Bimo Wijayanto menegaskan bahwa pihak otoritas akan terus berupaya mengoptimalkan pos pajak konsumsi ini hingga penutupan tahun anggaran. Salah satu langkah taktis yang diandalkan adalah memperketat pengawasan kepatuhan wajib pajak melalui pemanfaatan interoperabilitas data terpadu dalam ekosistem coretax system. Langkah intensifikasi penerimaan ini dikutip secara resmi pada Selasa (14/7/2026).

“Upaya [mendongkrak PPN] salah satunya interoperability data. Kita lihat ada kenaikan penerimaan yang signifikan di PPN, dalam negeri maupun impor. Berarti coretax pun bisa memonitor seperti apa [perkembangan aktivitasnya],” ujar Dirjen Pajak Bimo Wijayanto.

Pendorong Impor Bahan Baku dan Prospek Manufaktur Paruh Kedua

Lebih lanjut, Bimo menjelaskan bahwa performa impresif pada penerimaan PPN sepanjang semester I/2026 ditopang oleh maraknya aktivitas impor bahan baku industri. Peningkatan impor bahan baku ini utamanya didominasi oleh tiga kelompok manufaktur utama, yaitu sektor industri tekstil, petrokimia, dan pakan ternak.

Tingginya impor bahan baku input tersebut memberikan sinyal positif bagi prospek produktivitas manufaktur nasional. Peningkatan aktivitas produksi diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja baru, menaikkan pendapatan pekerja, hingga pada akhirnya memperkuat daya beli dan konsumsi masyarakat luas.

“Saya lihat semuanya bagus dari sisi input PPN impor. Jadi, kami berharap dengan adanya input yang bagus, maka produksinya juga bakal bagus di paruh kedua, yaitu di kuartal ketiga dan keempat tahun 2026,” tutur Bimo optimis melihat proyeksi pertumbuhan industri ke depan.

Strategi Pengawasan Coretax dan Rincian Jenis Pajak Semester I/2026

Guna mengamankan target penerimaan pajak 2026 secara keseluruhan, pemerintah melancarkan berbagai strategi komprehensif. Strategi tersebut mencakup pemanfaatan pangkalan data perpajakan yang akurat melalui coretax system, penguatan kapasitas SDM petugas pajak, hingga pelaksanaan langkah ekstensifikasi yang terukur.

“Tentu kami tidak akan memaksakan ketika kondisi ekonomi ada perlambatan, tapi ceteris paribus. Sekarang mesin-mesin kami optimal,” tegas Bimo mengenai kesiapan infrastruktur pengawasan fiskal.

Secara kumulatif, total realisasi penerimaan pajak pada semester I/2026 sudah terkumpul sebesar Rp1.035,7 triliun, atau tumbuh 24,6% dari periode yang sama tahun lalu. Capaian ini memenuhi 43,9% dari target APBN 2026 yang ditetapkan sebesar Rp2.357,7 triliun.

Rincian per jenis pajak mencatatkan bahwa setoran dari PPN dan PPnBM menjadi kontributor paling jumbo sebesar Rp380 triliun (tumbuh 42,2%). Selanjutnya, PPh Badan beserta deposit PPh Badan menyumbang Rp196,1 triliun (tumbuh 28,6%).

Sementara itu, gabungan PPh Orang Pribadi, PPh Pasal 21, dan deposit PPh Pasal 21 terealisasi Rp146 triliun (tumbuh 13,6%). Pos PPh Final, PPh Pasal 22, dan PPh Pasal 26 mengumpulkan Rp159,9 triliun (tumbuh 1,4%), serta jenis pajak lainnya mencatatkan angka Rp153,8 triliun (tumbuh 22,7%).

Exit mobile version