JAKARTA – Kementerian Keuangan memulai gelaran International Tax Conference 2026 dengan mempresentasikan enam paper terbaik hasil kompetisi Call for Paper Kementerian Keuangan yang mengangkat berbagai isu fiskal dan perpajakan terkini.
Kompetisi tersebut merupakan hasil kolaborasi Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dan Direktorat Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal (DJSEF) dalam mendorong pengembangan riset perpajakan di Indonesia.
Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Humas DJP Inge Diana Rismawanti mengatakan program tersebut menjadi wadah bagi para peneliti untuk menyampaikan gagasan sekaligus menghasilkan kajian yang dapat berkontribusi terhadap diskursus kebijakan di lingkungan Kementerian Keuangan.
“Melalui program ini kami riset terbaik mengenai isu fiskal dan perpajakan terkini. Kami memberikan platform kepada peneliti untuk mempresentasikan idenya dan mendukung pengembangan riset yang bisa berkontribusi pada diskursus kebijakan di Kemenkeu,” ujar Inge, Rabu (16/9/2026).
Call for Paper Diikuti 430 Karya
Dalam pelaksanaan Call for Paper kali ini, Kementerian Keuangan menerima sebanyak 430 paper yang berasal dari lingkungan internal maupun eksternal Kementerian Keuangan.
Ratusan karya tersebut kemudian melalui proses asesmen untuk menilai kualitas substansi, relevansi isu, metodologi, serta kontribusinya terhadap pembahasan kebijakan fiskal dan perpajakan.
Proses seleksi dilakukan sebelum akhirnya ditetapkan sejumlah paper yang masuk dalam kelompok terbaik dan memperoleh kesempatan untuk mengikuti tahapan berikutnya.
Lima Akademisi dan Praktisi Duduk sebagai Dewan Juri
Penilaian terhadap paper dilakukan oleh dewan juri yang berasal dari kalangan pemerintah, akademisi, serta praktisi perpajakan.
Dewan juri tersebut antara lain Staf Ahli Menteri Keuangan Bidang Penerimaan Negara Dwi Teguh Wibowo dan Staf Ahli Menteri Keuangan Bidang Kepatuhan Pajak Yon Arsal.
Senior Partner DDTC Fiscal Research & Advisory (FRA) B. Bawono Kristiaji juga menjadi bagian dari dewan juri.
Dari lingkungan akademik, penilaian melibatkan Guru Besar Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Universitas Indonesia Milla Sepliana Setyowati serta Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Padjadjaran Bayu Kharisma.
Seleksi Gunakan Double Blind Mechanism
Dewan juri kemudian menetapkan sebanyak 10 paper terbaik dari ratusan karya yang masuk dalam kompetisi.
Inge menegaskan proses asesmen dilakukan dengan mekanisme yang dirancang untuk menjaga objektivitas penilaian.
Salah satu mekanisme yang diterapkan adalah double blind mechanism, yakni identitas penulis dan reviewer sama-sama dirahasiakan selama proses penilaian substansi.
“Kami telah berupaya untuk menjaga objektivitas dengan menerapkan double blind mechanism dalam proses asesmen substansi. Artinya, identitas penulis paper dan reviewer dirahasiakan sepanjang proses review,” ujar Inge.
Dengan metode tersebut, penilaian diarahkan pada kualitas karya tanpa mempertimbangkan identitas maupun latar belakang penulis.
Enam Paper Dipresentasikan di International Tax Conference 2026
Dari 10 paper terbaik tersebut, enam karya memperoleh kesempatan untuk dipresentasikan dalam International Tax Conference 2026 pada Rabu, 16 September 2026.
Topik yang dibahas cukup beragam, mulai dari efektivitas insentif kawasan berikat, shadow economy, kepatuhan pajak, kapasitas perpajakan, pemetaan fiskal daerah, hingga penggunaan QRIS dan Nomor Induk Kependudukan (NIK) dalam formalisasi aktivitas ekonomi.
Enam paper yang dipresentasikan adalah sebagai berikut:
- Seeing Tax Incentives from Space: The Development Effects of Indonesia’s Bonded Zones Using Nighttime Lights
Agung Endika Satyadini, Ade Darma Putra, Restu Rea Erlangga, dan Brigitta Steffi VDKG. - Estimasi Shadow Economy dan Klasterisasi Provinsi untuk Optimalisasi Penerimaan Pajak: Pendekatan MIMIC dan Cluster Analysis
Icha Wahyu Kusuma Ningrum, Arya Candra Kusuma, dan Yuninda Anggraini Putri. - Enhancing Tax Compliance: The Role of Clarification Letters and Trigger Data in Indonesia
Muhammad Azhar Nurzaman. - Mempersempit Tax Capacity Gap: Bukti Panel 31 Negara dan Strategi Reformasi Administrasi Berbasis Data
Rayson Virtuosi. - Fiscal Visibility Atlas: Memetakan Titik Buta Fiskal Kabupaten/Kota dari Jejak Ekonomi, Geospasial, dan Digital
Suryo Adi Rakhmawan. - Keterhubungan QRIS dan NIK melalui Payment ID sebagai Instrumen Formalisasi Shadow Economy: Model Optimasi Kalkulus dan Permainan Stackelberg untuk Penerimaan Pajak serta Pertumbuhan Ekonomi
Tasdik Mahandito.
Insentif Kawasan Berikat Dianalisis dari Cahaya Malam
Salah satu paper yang tampil menggunakan pendekatan yang menghubungkan kebijakan insentif perpajakan dengan data cahaya malam atau nighttime lights.
Paper berjudul Seeing Tax Incentives from Space: The Development Effects of Indonesia’s Bonded Zones Using Nighttime Lights membahas dampak pembangunan dari kawasan berikat di Indonesia.
Karya tersebut ditulis oleh Agung Endika Satyadini, Ade Darma Putra, Restu Rea Erlangga, dan Brigitta Steffi VDKG.
Shadow Economy Juga Jadi Fokus Penelitian
Isu ekonomi yang tidak tercatat atau shadow economy menjadi tema beberapa karya dalam kompetisi.
Icha Wahyu Kusuma Ningrum, Arya Candra Kusuma, dan Yuninda Anggraini Putri membahas estimasi shadow economy sekaligus klasterisasi provinsi untuk mendukung optimalisasi penerimaan pajak.
Penelitian tersebut menggunakan pendekatan MIMIC dan cluster analysis.
Sementara itu, Tasdik Mahandito mengangkat keterhubungan QRIS dan NIK melalui Payment ID sebagai instrumen untuk mendorong formalisasi shadow economy, penerimaan pajak, dan pertumbuhan ekonomi.
Kepatuhan hingga Tax Capacity Gap Masuk Pembahasan
Topik peningkatan kepatuhan wajib pajak juga masuk dalam enam karya yang dipresentasikan.
Muhammad Azhar Nurzaman melalui paper Enhancing Tax Compliance: The Role of Clarification Letters and Trigger Data in Indonesia mengangkat penggunaan surat klarifikasi dan trigger data dalam kaitannya dengan kepatuhan pajak.
Rayson Virtuosi membahas persoalan tax capacity gap melalui bukti panel dari 31 negara dan strategi reformasi administrasi berbasis data.
Ragam tema tersebut menunjukkan riset yang dipresentasikan tidak hanya membahas aspek penerimaan, tetapi juga administrasi dan strategi penguatan sistem perpajakan.
Fiscal Visibility Atlas Petakan Titik Buta Fiskal Daerah
Persoalan fiskal daerah turut masuk dalam daftar enam paper yang dipresentasikan.
Suryo Adi Rakhmawan melalui Fiscal Visibility Atlas membahas pemetaan titik buta fiskal di tingkat kabupaten dan kota.
Pemetaan tersebut menggunakan jejak ekonomi, geospasial, serta digital sebagai bagian dari pendekatan analisisnya.
Topik ini melengkapi ragam riset dalam kompetisi yang mencakup kebijakan nasional hingga kondisi fiskal pada tingkat daerah.
30 Paper Masuk Workshop Penguatan Riset
Rangkaian Call for Paper Kementerian Keuangan tidak berhenti setelah presentasi dalam International Tax Conference 2026.
Inge mengatakan penulis dari 30 paper yang masuk shortlist akan diikutsertakan dalam workshop yang ditujukan untuk memperkuat kemampuan riset para penulis.
Kegiatan tersebut memperluas fungsi kompetisi dari sekadar proses memilih karya terbaik menjadi sarana pengembangan kapasitas peneliti.
Para peserta diharapkan memperoleh penguatan dalam menyusun riset yang dapat digunakan dalam pembahasan kebijakan fiskal dan perpajakan.
Paper Terpilih Akan Dipublikasikan di Scientax
Karya yang terpilih juga memperoleh kesempatan untuk melanjutkan hasil penelitian ke tahap publikasi.
Paper tersebut direncanakan dipublikasikan melalui Scientax serta berbagai jurnal Kementerian Keuangan lainnya.
Dengan mekanisme tersebut, hasil penelitian tidak hanya berhenti pada presentasi konferensi, tetapi dapat disebarluaskan kepada akademisi, praktisi, pemerintah, dan masyarakat yang memiliki perhatian terhadap isu perpajakan.
“Dengan cara ini, call for paper bukanlah sekadar kompetisi, melainkan juga platform riset dan knowledge sharing untuk kita semua,” ujar Inge.
Riset Diharapkan Berkontribusi pada Kebijakan Perpajakan
Kolaborasi antara DJP dan DJSEF melalui Call for Paper diarahkan untuk memperkuat hubungan antara penelitian akademik dan proses perumusan kebijakan.
Platform tersebut memberikan ruang bagi peneliti untuk mengembangkan gagasan mengenai persoalan perpajakan dan fiskal yang sedang dihadapi Indonesia.
Melalui proses seleksi, presentasi, workshop, hingga publikasi, hasil penelitian diharapkan tidak hanya menjadi karya akademik, tetapi juga memberikan kontribusi terhadap diskursus kebijakan di lingkungan Kementerian Keuangan.
International Tax Conference 2026 kemudian menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan hasil penelitian tersebut dengan pembuat kebijakan, akademisi, praktisi, serta pemangku kepentingan perpajakan lainnya.












