JAKARTA – Kementerian Keuangan resmi mengumumkan enam penerima penghargaan Call for Paper Kemenkeu 2026 dalam rangkaian International Tax Conference 2026 yang diselenggarakan pada Rabu (16/9/2026).
Enam penerima penghargaan tersebut terdiri atas juara pertama hingga keempat serta dua honorary place. Topik yang diangkat mencakup keterhubungan QRIS dan NIK, pemetaan fiskal daerah, insentif kawasan berikat, kepatuhan pajak, tax capacity gap, hingga estimasi shadow economy.
Direktur Jenderal Pajak Bimo Wijayanto mengapresiasi para peneliti yang telah mengambil bagian dalam kompetisi tersebut dan menyumbangkan gagasan untuk pengembangan kebijakan fiskal serta perpajakan.
“Komitmen Anda semua untuk mengkaji gagasan secara mendalam, memperkuat argumen, dan berkontribusi pada perbaikan kebijakan adalah cerminan semangat dari konferensi ini,” ujar Bimo.
Tasdik Mahandito Raih Juara 1
Posisi pertama dalam Call for Paper Kemenkeu 2026 diraih oleh Tasdik Mahandito.
Tasdik mengangkat paper berjudul “Keterhubungan QRIS dan NIK melalui Payment ID sebagai Instrumen Formalisasi Shadow Economy: Model Optimasi Kalkulus dan Permainan Stackelberg untuk Penerimaan Pajak serta Pertumbuhan Ekonomi.”
Paper tersebut mengangkat keterhubungan instrumen pembayaran digital dan identitas kependudukan dalam konteks formalisasi aktivitas ekonomi yang belum tercatat.
Suryo Adi Rakhmawan Tempati Posisi Kedua
Juara kedua diraih oleh Suryo Adi Rakhmawan melalui paper bertajuk “Fiscal Visibility Atlas: Memetakan Titik Buta Fiskal Kabupaten/Kota dari Jejak Ekonomi, Geospasial, dan Digital.”
Penelitian tersebut mengangkat pendekatan pemetaan kondisi fiskal kabupaten dan kota dengan memanfaatkan jejak ekonomi, geospasial, serta informasi digital.
Topik tersebut menempatkan data sebagai bagian penting dalam membaca kapasitas dan kondisi fiskal di tingkat daerah.
Riset Kawasan Berikat Raih Juara Ketiga
Posisi ketiga diberikan kepada tim yang terdiri atas Agung Endika Satyadini, Ade Darma Putra, Restu Rea Erlangga, dan Brigitta Steffi VDKG.
Mereka menyusun paper berjudul “Seeing Tax Incentives from Space: The Development Effects of Indonesia’s Bonded Zones Using Nighttime Lights.”
Penelitian tersebut mengkaji dampak pembangunan dari kawasan berikat di Indonesia dengan menggunakan pendekatan data cahaya malam atau nighttime lights.
Pendekatan tersebut menjadi salah satu cara untuk menilai dampak kebijakan insentif fiskal terhadap aktivitas ekonomi dan pembangunan.
Muhammad Azhar Nurzaman Raih Juara Keempat
Juara keempat diraih oleh Muhammad Azhar Nurzaman.
Paper yang dibawanya berjudul “Enhancing Tax Compliance: The Role of Clarification Letters and Trigger Data in Indonesia.”
Penelitian tersebut membahas kaitan penggunaan surat klarifikasi dan trigger data dengan upaya peningkatan kepatuhan perpajakan di Indonesia.
Topik kepatuhan menjadi salah satu isu penting yang diangkat dalam kompetisi karena berkaitan langsung dengan efektivitas administrasi perpajakan.
Rayson Virtuosi Dapat Honorary Place
Selain empat juara utama, Kementerian Keuangan memberikan dua penghargaan honorary place.
Salah satunya diberikan kepada Rayson Virtuosi melalui paper “Mempersempit Tax Capacity Gap: Bukti Panel 31 Negara dan Strategi Reformasi Administrasi Berbasis Data.”
Penelitian tersebut menggunakan bukti panel dari 31 negara untuk membahas persoalan kesenjangan kapasitas perpajakan serta strategi reformasi administrasi berbasis data.
Riset Shadow Economy Juga Raih Honorary Place
Penghargaan honorary place lainnya diberikan kepada Icha Wahyu Kusuma Ningrum, Arya Candra Kusuma, dan Yuninda Anggraini Putri.
Ketiganya mengangkat penelitian berjudul “Estimasi Shadow Economy dan Klasterisasi Provinsi untuk Optimalisasi Penerimaan Pajak: Pendekatan MIMIC dan Cluster Analysis.”
Paper tersebut menggabungkan estimasi shadow economy dengan klasterisasi provinsi untuk membahas potensi optimalisasi penerimaan perpajakan.
Enam Penerima Penghargaan Call for Paper Kemenkeu 2026
Secara lengkap, enam penerima penghargaan Call for Paper Kemenkeu 2026 adalah sebagai berikut:
- Juara 1 – Tasdik Mahandito
Keterhubungan QRIS dan NIK melalui Payment ID sebagai Instrumen Formalisasi Shadow Economy: Model Optimasi Kalkulus dan Permainan Stackelberg untuk Penerimaan Pajak serta Pertumbuhan Ekonomi. - Juara 2 – Suryo Adi Rakhmawan
Fiscal Visibility Atlas: Memetakan Titik Buta Fiskal Kabupaten/Kota dari Jejak Ekonomi, Geospasial, dan Digital. - Juara 3 – Agung Endika Satyadini, Ade Darma Putra, Restu Rea Erlangga, dan Brigitta Steffi VDKG
Seeing Tax Incentives from Space: The Development Effects of Indonesia’s Bonded Zones Using Nighttime Lights. - Juara 4 – Muhammad Azhar Nurzaman
Enhancing Tax Compliance: The Role of Clarification Letters and Trigger Data in Indonesia. - Honorary Place – Rayson Virtuosi
Mempersempit Tax Capacity Gap: Bukti Panel 31 Negara dan Strategi Reformasi Administrasi Berbasis Data. - Honorary Place – Icha Wahyu Kusuma Ningrum, Arya Candra Kusuma, dan Yuninda Anggraini Putri
Estimasi Shadow Economy dan Klasterisasi Provinsi untuk Optimalisasi Penerimaan Pajak: Pendekatan MIMIC dan Cluster Analysis.
30 Paper Terbaik Akan Ikuti Workshop Penulisan
Program Call for Paper Kemenkeu 2026 tidak berhenti setelah pengumuman pemenang.
Para penulis dari 30 paper terbaik akan diundang mengikuti workshop penulisan yang ditujukan untuk memperkuat kemampuan riset dan penulisan ilmiah mereka.
Workshop tersebut menjadi bagian dari upaya pengembangan kapasitas agar hasil penelitian dapat terus disempurnakan setelah proses kompetisi selesai.
Dengan demikian, peserta tidak hanya memperoleh ruang untuk mempresentasikan gagasan, tetapi juga kesempatan meningkatkan kualitas penelitian untuk tahap selanjutnya.
Paper Terpilih Berpeluang Terbit di Scientax
Selain mengikuti workshop, sejumlah paper terpilih juga akan memperoleh kesempatan untuk dipublikasikan oleh DJP melalui jurnal Scientax.
Publikasi tersebut memberi ruang agar hasil penelitian dapat menjangkau pembaca yang lebih luas, termasuk akademisi, praktisi perpajakan, pemerintah, serta pemangku kepentingan lainnya.
Rangkaian tersebut membuat kompetisi tidak hanya berhenti pada pemilihan pemenang, tetapi juga mendorong pengembangan dan penyebarluasan hasil riset perpajakan.
Hasil Riset Tak Otomatis Menjadi Kebijakan
Bimo menegaskan gagasan yang dituangkan dalam paper peserta belum tentu langsung diterapkan menjadi kebijakan pemerintah.
Meski demikian, hasil penelitian tetap memiliki peran penting karena dapat memperkaya informasi serta alternatif yang dipertimbangkan pembuat kebijakan.
“Riset membantu kita mengidentifikasi masalah dengan lebih jelas, mempertanyakan asumsi dasar dari pendekatan kita saat ini, serta memperluas opsi yang bisa dipertimbangkan oleh pembuat kebijakan,” tutur Bimo.
Dengan demikian, kontribusi penelitian tidak selalu diukur dari apakah sebuah rekomendasi langsung diadopsi menjadi kebijakan.
Riset juga dapat berfungsi untuk menguji pendekatan yang telah digunakan, menemukan persoalan baru, serta membuka pilihan kebijakan yang sebelumnya belum dipertimbangkan.
Call for Paper Jadi Penghubung Riset dan Kebijakan
Pengumuman enam penerima penghargaan menjadi bagian dari puncak rangkaian Call for Paper yang digelar dalam International Tax Conference 2026.
Topik para pemenang menunjukkan luasnya isu yang dibahas, mulai dari digitalisasi sistem pembayaran, shadow economy, kapasitas fiskal daerah, administrasi perpajakan berbasis data, hingga efektivitas insentif fiskal.
Melalui workshop dan peluang publikasi di Scientax, hasil kompetisi diharapkan tetap berkembang setelah konferensi berakhir.
Dengan pendekatan tersebut, Call for Paper Kemenkeu 2026 menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan riset dengan kebutuhan pembuat kebijakan dalam pengembangan sistem perpajakan Indonesia.













