Trump Sebut Tarif 100% China Tak Akan Bertahan Lama

WASHINGTON D.C., — Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengakui kebijakan bea masuk tambahan sebesar 100% atas produk-produk impor dari China bukan langkah yang dapat dijalankan dalam jangka panjang.Namun, Trump menegaskan kebijakan itu tetap harus diterapkan mulai 1 November 2025 sebagai respons terhadap langkah China yang memperketat ekspor logam tanah jarang (rare earth) ke Amerika Serikat.

“Kebijakan itu memang tidak berkelanjutan, tetapi inilah tarifnya. Mereka memaksa saya melakukannya,” — Donald Trump

Langkah ini diperkirakan memperdalam ketegangan perdagangan antara dua ekonomi terbesar dunia. Meski begitu, Trump tetap optimistis akan ada kesepakatan dagang yang saling menguntungkan antara dirinya dan Presiden China Xi Jinping.

Baca Juga : Norwegia Hapus Insentif Pajak Mobil Listrik Mulai 2027

“Hubungan kita dengan China akan baik-baik saja. Saya punya hubungan baik dengan Xi — dia pemimpin yang kuat dan luar biasa. Tapi kita perlu kesepakatan yang adil,” kata Trump seperti dilansir Fox Business.

Pertemuan Diplomatik di Asia

Trump juga mengonfirmasi rencana pertemuan dengan Xi Jinping di Korea Selatan dalam waktu dekat. Sebelum itu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent dijadwalkan bertemu dengan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng di Malaysia untuk membahas prospek kerja sama ekonomi kedua negara.

Media resmi China, Xinhua, melaporkan kedua pejabat tersebut akan membahas sejumlah isu strategis di bidang ekonomi dan perdagangan.

“Kedua belah pihak mengadakan pertukaran informasi yang terbuka, mendalam, dan konstruktif mengenai penerapan konsensus yang telah dicapai kedua kepala negara sejak awal tahun ini,” — Xinhua

Baca Juga : Norwegia Siap Akhiri Insentif PPN Mobil Listrik pada 2027

China Batasi Ekspor 12 Logam Langka

Langkah pembalasan Beijing dilakukan dengan membatasi ekspor 12 jenis logam tanah jarang seperti holmium, erbium, thulium, europium, ytterbium, samarium, gadolinium, terbium, dysprosium, lutetium, scandium, dan yttrium.

Perusahaan yang ingin mengekspor logam-logam tersebut kini wajib memperoleh izin khusus dari pemerintah China. Dalam pengajuan izin, eksportir harus menjelaskan secara detail jenis produk yang akan dibuat menggunakan logam tersebut.

Langkah ini dimaksudkan agar sumber daya strategis itu tidak digunakan untuk keperluan militer dan menjaga pasokan dalam negeri China tetap aman.

“Kebijakan ini adalah sinyal bahwa perang dagang antara dua raksasa ekonomi dunia belum berakhir,” — Bloomberg

Exit mobile version