“Kebijakan itu memang tidak berkelanjutan, tetapi inilah tarifnya. Mereka memaksa saya melakukannya,” — Donald Trump
Langkah ini diperkirakan memperdalam ketegangan perdagangan antara dua ekonomi terbesar dunia. Meski begitu, Trump tetap optimistis akan ada kesepakatan dagang yang saling menguntungkan antara dirinya dan Presiden China Xi Jinping.
Baca Juga : Norwegia Hapus Insentif Pajak Mobil Listrik Mulai 2027
“Hubungan kita dengan China akan baik-baik saja. Saya punya hubungan baik dengan Xi — dia pemimpin yang kuat dan luar biasa. Tapi kita perlu kesepakatan yang adil,” kata Trump seperti dilansir Fox Business.
Pertemuan Diplomatik di Asia
Trump juga mengonfirmasi rencana pertemuan dengan Xi Jinping di Korea Selatan dalam waktu dekat. Sebelum itu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent dijadwalkan bertemu dengan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng di Malaysia untuk membahas prospek kerja sama ekonomi kedua negara.
Media resmi China, Xinhua, melaporkan kedua pejabat tersebut akan membahas sejumlah isu strategis di bidang ekonomi dan perdagangan.
“Kedua belah pihak mengadakan pertukaran informasi yang terbuka, mendalam, dan konstruktif mengenai penerapan konsensus yang telah dicapai kedua kepala negara sejak awal tahun ini,” — Xinhua
Baca Juga : Norwegia Siap Akhiri Insentif PPN Mobil Listrik pada 2027
China Batasi Ekspor 12 Logam Langka
Langkah pembalasan Beijing dilakukan dengan membatasi ekspor 12 jenis logam tanah jarang seperti holmium, erbium, thulium, europium, ytterbium, samarium, gadolinium, terbium, dysprosium, lutetium, scandium, dan yttrium.
Perusahaan yang ingin mengekspor logam-logam tersebut kini wajib memperoleh izin khusus dari pemerintah China. Dalam pengajuan izin, eksportir harus menjelaskan secara detail jenis produk yang akan dibuat menggunakan logam tersebut.
Langkah ini dimaksudkan agar sumber daya strategis itu tidak digunakan untuk keperluan militer dan menjaga pasokan dalam negeri China tetap aman.
“Kebijakan ini adalah sinyal bahwa perang dagang antara dua raksasa ekonomi dunia belum berakhir,” — Bloomberg
