JAKARTA – Indonesia harus bersiap menghadapi dinamika baru dalam lanskap ekonomi makro internasional setelah mencatatkan pembalikan arah performa dagang. Badan Pusat Statistik (BPS) secara resmi melaporkan bahwa kondisi fundamental makro tanah air mengalami defisit neraca perdagangan senilai US$1,61 miliar pada periode Mei 2026.
Laporan yang dirilis pada Rabu (1/7/2026) ini sekaligus menandai babak akhir dari catatan impresif kinerja ekspor-impor nasional. Rapor merah tersebut secara resmi mengakhiri tren surplus neraca dagang beruntun yang sebelumnya berhasil dipertahankan oleh pemerintah selama 72 bulan berturut-turut.
Terjadinya pembalikan arah ini disebabkan oleh melonjaknya angka defisit pada neraca dagang sektor minyak dan gas bumi (migas) secara signifikan. Di waktu yang sama, kinerja pos non-minyak dan gas bumi (nonmigas) yang biasanya menjadi andalan justru mengalami penyusutan nilai surplus.
Lonjakan Impor Migas dan Rapor Defisit Sektor Energi
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, memberikan perincian struktural terkait membengkaknya beban belanja energi tersebut. Faktor utama yang melesapkan kinerja perdagangan adalah tingginya ketergantungan pasokan bahan bakar dari pasar global.
“Defisit pada komoditas migas sebesar minus US$3,76 miliar dengan penyumbang defisit dari hasil minyak dan minyak mentah,” ujar Ateng Hartono pada Rabu (1/7/2026).
Secara statistik, nilai total impor migas pada bulan Mei 2026 tercatat mengalami lonjakan drastis sebesar 70,78% hingga menyentuh angka US$4,51 miliar. Sebaliknya, kinerja penjualan ekspor migas nasional justru terperosok jatuh sebesar 31,76% dengan perolehan nilai riil yang hanya mampu membukukan US$0,76 miliar.
Penyusutan Kinerja Nonmigas dan Negara Penyuplai Defisit
Di sisi lain, kelompok neraca dagang nonmigas sebenarnya masih menunjukkan performa positif dengan mencatatkan akumulasi surplus senilai US$2,15 miliar. Barisan komoditas utama yang konsisten menyumbang surplus ini meliputi bahan bakar mineral (HS 27), lemak dan minyak hewan nabati (HS 15), serta produk besi dan baja (HS 72).
Walau demikian, pembuat kebijakan patut memberikan perhatian ekstra lantaran perolehan surplus nonmigas pada Mei 2026 tersebut sejatinya telah merosot tajam sebesar 63% jika disandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu. Perlambatan ini dipicu oleh besarnya tekanan impor barang modal dan konsumsi.
Beberapa kelompok komoditas nonmigas yang menjadi penekan utama laju surplus adalah mesin dan peralatan mekanis (HS 84), mesin dan perlengkapan elektrik (HS 85), serta plastik dan barang dari plastik (HS 39). BPS mengonfirmasi bahwa negara-negara produsen terbesar yang menyumbang andil defisit nonmigas ini meliputi China, Australia, serta Prancis.
