JAKARTA – Indeks harga konsumen domestik kembali mencatatkan pergerakan naik yang dipicu oleh dinamika harga komoditas energi dan pangan. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa laju inflasi Juni 2026 secara tahunan (*year-on-year*) sukses menyentuh angka 3,34%. Realisasi tahunan ini tercatat lebih tinggi jika disandingkan dengan capaian inflasi pada bulan sebelumnya yang berada di level 3,08%.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, pada Rabu (1/7/2026) mengungkapkan bahwa kenaikan angka indeks ini utamanya disumbang oleh tiga kelompok pengeluaran utama. Kelompok tersebut meliputi makanan, minuman, dan tembakau; perawatan pribadi dan jasa lainnya; serta sektor transportasi. Pada kelompok pengeluaran transportasi, tingkat kenaikan harga tercatat sebesar 4,57% dengan andil kontribusi terhadap inflasi nasional sebesar 0,55%.
“Inflasi pada kelompok ini terutama didorong oleh inflasi pada bensin, tarif angkutan udara, mobil, sepeda motor, dan juga pelumas atau oli mesin,” urai Ateng Hartono pada Rabu (1/7/2026).
Komoditas Pangan dan Emas Perhiasan Jadi Pemicu Utama
Sementara itu, kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau mencatatkan tingkat kenaikan harga sebesar 4,67%. Sektor ini memberikan andil yang cukup besar terhadap total capaian inflasi nasional, yakni sebesar 1,36%. Beberapa komoditas dengan andil inflasi terbesar pada kelompok pangan ini antara lain ikan segar, beras, minyak goreng, cabai merah, daging ayam ras, cabai rawit, sigaret kretek mesin (SKM), serta bawang merah.
Di sisi lain, lonjakan paling drastis terjadi pada kelompok pengeluaran perawatan pribadi dan jasa lainnya yang melesat hingga menyentuh angka 10,10% dengan andil inflasi sebesar 0,69%. Berdasarkan hasil pemantauan BPS di lapangan, tekanan kenaikan harga pada kelompok pengeluaran ini terutama terjadi pada komoditas emas perhiasan.
Perincian Berdasarkan Komponen Inti dan Harga Diatur Pemerintah
Jika diperinci secara mendalam berdasarkan komponen penyusunnya, BPS mencatat bahwa komponen inflasi inti pada periode inflasi Juni 2026 ini menyentuh angka 2,76% dengan kontribusi andil sebesar 1,77%. Kenaikan pada komponen inti ini didorong oleh merangkaknya harga emas perhiasan, minyak goreng, porsi nasi dengan lauk, perangkat telepon seluler, hingga biaya pendidikan di akademi atau perguruan tinggi.
Untuk komponen harga yang diatur pemerintah (*administered prices*), realisasi inflasi tercatat menyentuh level 3,42% dengan andil sumbangan sebesar 0,66%. Pemicu utama pergerakan pada komponen ini adalah penyesuaian harga bensin, fluktuasi tarif angkutan udara, produk SKM, serta pergeseran harga bahan bakar rumah tangga.
Terakhir, untuk komponen harga bergejolak (*volatile foods*), tingkat kenaikan harga dilaporkan menembus angka 5,58% dengan andil kontribusi fiskal sebesar 0,91%. Kelompok ini didorong kuat oleh fluktuasi harga bahan pangan pokok seperti beras, cabai merah, daging ayam ras, cabai rawit, dan bawang merah. Secara bulanan (*month-to-month*), BPS mencatat akumulasi inflasi pada Juni 2026 berada di angka 0,44%.
