LONDON – Menteri Keuangan Inggris, Rachel Reeves, secara terbuka menyatakan kemarahannya atas keputusan Presiden AS Donald Trump untuk melancarkan perang terhadap Iran. Reeves menilai langkah tersebut diambil tanpa strategi penarikan diri yang jelas dan berisiko menimbulkan penderitaan ekonomi global yang nyata.
Ketegangan diplomatik antara London dan Washington semakin meruncing setelah Perdana Menteri Sir Keir Starmer menolak keterlibatan lebih jauh dalam konflik tersebut. Reeves memperingatkan bahwa konsekuensi dari perang ini mencakup lonjakan inflasi, pelemahan pertumbuhan ekonomi, serta penurunan penerimaan pajak di Inggris.
Dampak Ekonomi dan Lonjakan Harga Energi di Inggris
Keputusan Trump untuk berperang telah menyebabkan gangguan serius pada rantai pasokan global. Iran secara efektif telah memblokir Selat Hormuz, salah satu jalur pengiriman minyak tersibuk di dunia, yang memicu lonjakan harga grosir minyak dan gas. Hal ini diprediksi akan menyebabkan kenaikan signifikan pada tagihan energi rumah tangga di Inggris saat batas harga disesuaikan pada Juli mendatang.
Pemerintah Inggris kini tengah berupaya keras mengamankan pasokan minyak dan gas alternatif untuk menekan harga. Di sisi lain, partai-partai oposisi mendesak langkah lebih konkret, seperti penghapusan PPN pada tagihan energi dan pembatalan rencana kenaikan pajak bahan bakar yang dijadwalkan mulai September.
“Saya marah karena Donald Trump memilih untuk berperang di Timur Tengah – sebuah perang yang tidak memiliki rencana jelas tentang cara keluar darinya. Keputusan ini menimbulkan penderitaan nyata bagi masyarakat saat ini.”
— Rachel Reeves, Menteri Keuangan Inggris
Upaya Diplomatik dan Hubungan Erat dengan Uni Eropa
Sebagai respons terhadap ketidakstabilan global, PM Sir Keir Starmer menyatakan bahwa Inggris akan mengejar hubungan ekonomi yang lebih erat dengan Uni Eropa. Starmer menegaskan bahwa kepentingan nasional jangka panjang Inggris memerlukan kemitraan yang lebih solid dengan sekutu-sekutu di Eropa untuk menghadapi dampak dari konflik AS-Israel dengan Iran.
Beberapa langkah strategis yang sedang ditempuh pemerintah antara lain:
- Pertemuan Global: Menteri Luar Negeri Yvette Cooper memimpin pertemuan 35 negara untuk membahas pembukaan kembali Selat Hormuz.
- Rantai Pasok Pangan: Pertemuan dengan bos supermarket untuk memastikan ketersediaan dan keterjangkauan harga pangan bagi konsumen.
- Kebijakan Energi: Pemantauan ketat terhadap pasokan gas dan minyak guna menghindari krisis energi domestik.
- Mitigasi Pajak: Pembahasan mengenai penghapusan bertahap pemotongan pajak bensin sebesar 5p mulai September mendatang.
Kubu oposisi menuduh pemerintah menggunakan konflik ini sebagai kedok untuk membawa Inggris kembali ke pasar tunggal Uni Eropa secara perlahan. Namun, Reeves tetap fokus pada upaya meredakan beban hidup masyarakat di tengah tekanan ekonomi yang kian berat akibat kebijakan luar negeri AS di Timur Tengah.
