JAKARTA – Pemerintah menetapkan target PNBP 2027 sebesar Rp517,4 triliun. Nilai tersebut turun 10,03% dibandingkan dengan outlook penerimaan negara bukan pajak pada 2026 yang diperkirakan mencapai Rp575,14 triliun, dengan penurunan paling tajam terjadi pada komponen kekayaan negara dipisahkan (KND).
Meski lebih rendah dibandingkan outlook tahun ini, target PNBP pada RAPBN 2027 masih lebih tinggi jika dibandingkan dengan target dalam APBN 2026 yang sebesar Rp459,2 triliun. Secara tahunan terhadap target APBN tersebut, PNBP 2027 masih tumbuh 12,67%.
Pemerintah memerinci target PNBP ke dalam empat komponen utama, yakni penerimaan sumber daya alam (SDA), kekayaan negara dipisahkan, PNBP lainnya, serta pendapatan badan layanan umum (BLU).
“Pada RAPBN tahun 2027, PNBP diperkirakan mencapai Rp517.410,8 miliar atau terkontraksi 10% dari outlook tahun 2026,” tulis pemerintah dalam Buku II Nota Keuangan dan RAPBN 2027, dikutip pada Selasa (25/8/2026).
PNBP SDA Migas Ditargetkan Rp129,94 Triliun
Komponen pertama dalam PNBP 2027 berasal dari penerimaan sumber daya alam yang mencakup sektor minyak dan gas bumi serta SDA nonmigas.
Untuk SDA migas, pemerintah menetapkan target penerimaan sebesar Rp129,94 triliun. Angka tersebut turun 5,9% dibandingkan dengan outlook 2026 yang diperkirakan mencapai Rp138,1 triliun.
Penurunan penerimaan dari sektor migas dipengaruhi oleh fluktuasi harga minyak bumi atau Indonesian crude price (ICP). Selain harga minyak, volatilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga menjadi faktor yang memengaruhi proyeksi tersebut.
SDA Nonmigas Justru Naik 8,1%
Berbeda dengan sektor migas, pemerintah memperkirakan penerimaan SDA nonmigas meningkat pada tahun depan.
PNBP dari SDA nonmigas ditargetkan sebesar Rp153,5 triliun pada 2027. Nilai tersebut naik 8,1% dibandingkan dengan outlook 2026 sebesar Rp141,9 triliun.
Peningkatan tersebut didukung perkembangan harga mineral acuan (HMA) sejumlah komoditas utama. Pemerintah mencatat harga emas, nikel, timah, dan tembaga menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa tahun terakhir.
Perkembangan harga komoditas tersebut menjadi salah satu faktor yang mendukung proyeksi kenaikan penerimaan SDA nonmigas di tengah penurunan yang diperkirakan terjadi pada sektor migas.
PNBP KND Anjlok 96,3% Menjadi Rp2,1 Triliun
Perubahan paling besar terjadi pada penerimaan yang berasal dari kekayaan negara dipisahkan atau KND. Pemerintah hanya menargetkan penerimaan KND sebesar Rp2,1 triliun pada 2027.
Target tersebut terkontraksi 96,3% dibandingkan dengan outlook PNBP KND pada 2026 yang mencapai Rp56,4 triliun.
Penurunan tajam terutama dipengaruhi oleh pengalihan pengelolaan pendapatan dividen badan usaha milik negara kepada BPI Danantara. Perubahan tersebut berlangsung seiring dengan berlakunya UU 16/2025 terkait perubahan ketentuan dalam UU 19/2003 tentang Badan Usaha Milik Negara.
Akibat perubahan pengelolaan tersebut, kontribusi KND terhadap struktur PNBP 2027 menjadi jauh lebih rendah dibandingkan dengan outlook penerimaan pada tahun ini.
PNBP Lainnya Diproyeksikan Rp114 Triliun
Komponen berikutnya adalah PNBP lainnya. Pemerintah menargetkan penerimaan dari kelompok tersebut sebesar Rp114 triliun pada 2027.
Target itu turun 7,6% dibandingkan dengan outlook 2026 yang diperkirakan mencapai Rp123,3 triliun.
Dengan demikian, PNBP lainnya menjadi salah satu komponen yang diproyeksikan mengalami kontraksi pada tahun depan, selain SDA migas dan kekayaan negara dipisahkan.
Pendapatan BLU Naik Menjadi Rp117,9 Triliun
Sementara itu, pemerintah memperkirakan pendapatan badan layanan umum masih mengalami pertumbuhan pada 2027.
PNBP BLU ditargetkan mencapai Rp117,9 triliun atau meningkat 2,2% dibandingkan dengan outlook 2026 sebesar Rp115,4 triliun.
Peningkatan tersebut terutama dipengaruhi oleh kenaikan pendapatan layanan kesehatan. Pertumbuhan pendapatan terjadi seiring dengan pengembangan kapasitas layanan pada BLU rumah sakit, khususnya rumah sakit yang berada di lingkungan Kementerian Kesehatan.
Selain sektor kesehatan, peningkatan PNBP BLU juga dipengaruhi oleh perbaikan tata kelola pungutan ekspor minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) beserta produk turunannya.
Empat Komponen Bergerak Berbeda pada 2027
Secara keseluruhan, empat komponen PNBP menunjukkan arah pertumbuhan yang berbeda pada RAPBN 2027.
Penerimaan SDA migas turun 5,9% menjadi Rp129,94 triliun, sedangkan SDA nonmigas meningkat 8,1% menjadi Rp153,5 triliun.
Di sisi lain, penerimaan KND mengalami kontraksi paling dalam sebesar 96,3% menjadi hanya Rp2,1 triliun. PNBP lainnya juga turun 7,6% menjadi Rp114 triliun.
Sementara itu, pendapatan BLU menjadi salah satu komponen yang masih tumbuh, yakni sebesar 2,2% menjadi Rp117,9 triliun.
Target PNBP 2027 sebesar Rp517,4 triliun mencerminkan kombinasi penurunan penerimaan SDA migas, KND, dan PNBP lainnya, serta kenaikan pada SDA nonmigas dan pendapatan BLU.
Target Turun dari Outlook, tetapi Naik dari APBN 2026
Perbandingan target PNBP 2027 juga menunjukkan dua arah yang berbeda tergantung basis yang digunakan.
Dibandingkan dengan outlook 2026 sebesar Rp575,14 triliun, target Rp517,4 triliun pada tahun depan mencerminkan penurunan sebesar 10,03%.
Namun, apabila dibandingkan dengan target awal PNBP dalam APBN 2026 sebesar Rp459,2 triliun, target tahun depan masih meningkat 12,67%.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa outlook penerimaan tahun berjalan berada di atas target awal APBN 2026, sementara pemerintah menyusun target 2027 di bawah perkiraan realisasi tahun ini tetapi tetap lebih tinggi dari target awal 2026.
KND Jadi Faktor Penurunan Paling Menonjol
Dari seluruh komponen, kontraksi pada KND menjadi perubahan paling besar dalam struktur penerimaan tahun depan. Targetnya turun dari outlook Rp56,4 triliun pada 2026 menjadi hanya Rp2,1 triliun pada 2027.
Pemerintah mengaitkan penurunan tersebut terutama dengan pengalihan pengelolaan pendapatan dividen BUMN kepada BPI Danantara.
Sementara itu, perkembangan harga mineral memberikan dukungan bagi penerimaan SDA nonmigas, dan peningkatan kapasitas layanan rumah sakit serta tata kelola pungutan ekspor CPO turut menopang pertumbuhan PNBP BLU.
Dengan berbagai perubahan tersebut, pemerintah menetapkan total PNBP 2027 sebesar Rp517,4 triliun atau Rp517.410,8 miliar dalam RAPBN tahun depan.
