Kerja Sama Ekonomi RI-China Bidik 5 Sektor Utama

JAKARTA – Pemerintah Indonesia dan China sepakat memperkuat kemitraan strategis guna mendorong kerja sama ekonomi RI-China yang lebih seimbang dan berkelanjutan. Fokus perkuatan ini mencakup bidang perdagangan, investasi, pengembangan kawasan ekonomi, ekonomi digital, energi terbarukan, hingga kerja sama ekonomi regional, Sabtu (18/7/2026).

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa arah hubungan dagang kedua negara kini tidak lagi sekadar berorientasi pada peningkatan volume transaksi semata. Kerja sama mendatang akan lebih difokuskan pada masuknya investasi yang berkualitas serta transfer teknologi dan pengembangan sumber daya manusia (SDM).

“Kerja sama ke depan perlu diarahkan pada peningkatan nilai perdagangan yang lebih seimbang, investasi yang berkualitas, transfer teknologi, pengembangan sumber daya manusia, dan penguatan kapasitas industri nasional,” kata Menko Perekonomian Airlangga Hartarto.

Kawasan Industri TCTP dan Peran Strategis Danantara

Airlangga mencatat sedikitnya ada lima kerangka kerja sama utama yang akan direalisasikan kedua negara. Kerangka pertama yakni skema Two Countries Twin Parks (TCTP) yang ditujukan untuk memacu investasi, perdagangan, serta pengembangan kawasan ekonomi dan industri secara terintegrasi.

Hingga saat ini, sebanyak 30 nota kesepahaman (MoU) proyek TCTP telah resmi ditandatangani dengan estimasi nilai investasi mencapai Rp37,1 triliun. Pemerintah mendesak agar seluruh kesepakatan tersebut segera dieksekusi menjadi investasi riil di lapangan.

“Berbagai nota kesepahaman yang telah ditandatangani perlu segera ditindaklanjuti menjadi investasi nyata. Kami juga mendorong pembentukan joint venture agar kerja sama TCTP dapat menghasilkan manfaat ekonomi yang lebih konkret,” ujar Airlangga.

Kerangka kedua melibatkan rencana penyelarasan perdagangan dan penguatan investasi. Dalam langkah ini, Danantara akan diposisikan sebagai mitra strategis bagi investor China guna menarik modal berkualitas, memperkuat kapasitas produksi nasional, serta menggarap proyek-proyek prioritas bersama.

Investasi Energi Surya, RCEP 3.0, dan Persiapan APEC 2026

Kerangka ketiga berfokus pada kerja sama investasi energi terbarukan, di mana Indonesia mengundang perusahaan-perusahaan China untuk menanamkan modal di sektor energi surya. Langkah ini ditujukan untuk mendukung pengembangan kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hingga 100 gigawatt (GW).

Adapun kerangka keempat adalah penguatan kerja sama Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) melalui inisiatif RCEP 3.0. Pembaruan ini dirancang agar RCEP lebih responsif terhadap dinamika perdagangan global, transformasi digital, pergeseran rantai pasok, dan integrasi ekonomi kawasan.

Sementara itu, kerangka kelima berkaitan dengan persiapan kerja sama menjelang helatan Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) 2026. Indonesia berharap kedua pihak dapat menyiapkan deretan proyek konkret yang siap diumumkan saat pertemuan para pemimpin negara.

“Kami berharap pertemuan ini dapat ditindaklanjuti melalui kerja sama dan proyek yang konkret sehingga memberikan manfaat seimbang dan saling menguntungkan bagi kedua negara,” pungkas Airlangga.

Exit mobile version