G-20 Dorong Solusi Global untuk Pajak Minimum & Sistem AS

JOHANNESBURG – Negara-negara G-20 menegaskan komitmennya untuk mempercepat penyelesaian berbagai isu teknis terkait penerapan pajak minimum global Pilar 2: Global Anti Base Erosion (GloBE). Dalam leaders’ declaration, para pemimpin G-20 meminta agar solusi bersifat seimbang, praktis, dan dapat diterima semua pihak tanpa mengorbankan kedaulatan pajak masing-masing negara.

“Kerja sama erat dalam Inclusive Framework penting untuk menjaga keadilan dan mencegah praktik penggerusan basis pajak.”

Langkah ini dipandang krusial untuk memastikan level playing field bagi seluruh yurisdiksi, terutama terkait perlakuan pajak atas substance-based tax incentives dan mitigasi risiko base erosion and profit shifting (BEPS). Stabilitas sistem perpajakan internasional menjadi prioritas utama.

Solusi: Dari Insentif Berbasis Substansi hingga Side-by-Side System

OECD dalam laporannya menegaskan bahwa negara-negara Inclusive Framework sedang menggodok opsi penyelesaian yang praktis untuk diimplementasikan namun tetap menjaga integritas rezim pajak minimum global.

Dua fokus utama pembahasan meliputi:

  • Penerapan side-by-side system
  • Perlakuan pajak atas substance-based non-refundable tax credits

Lihat juga: Uzbekistan Bangun Zona Bebas Pajak untuk Investasi AI Global

AS Dorong Koeksistensi dengan GloBE

Munculnya gagasan side-by-side system berangkat dari posisi Amerika Serikat yang enggan mengadopsi aturan GloBE secara penuh karena sudah memiliki rezim pajak minimum sendiri, yaitu global intangible low taxed income (GILTI).

Pada 2025, negara-negara G-7 menyepakati kerangka koeksistensi GILTI dan GloBE dengan cara:

  • Mengecualikan grup perusahaan AS dari income inclusion rule (IIR)
  • Mengecualikan dari undertaxed payment rule (UTPR)

Kebijakan tersebut juga membuka ruang revisi terkait perlakuan GloBE terhadap substance-based non-refundable tax credits.

Baca juga: Bangladesh Modernisasi Sistem Restitusi PPN

“G-20 ingin memastikan bahwa integritas pajak minimum global tetap terjaga meski ada perbedaan pendekatan antarnegara, terutama Amerika Serikat.”

Exit mobile version