Banggar DPR Soroti Perlambatan Industri Manufaktur

JAKARTA – Badan Anggaran (Banggar) DPR meminta pemerintah untuk tidak berpuas diri dengan capaian pertumbuhan ekonomi kuartal II/2026 yang sebesar 5,29%, mengingat terjadi perlambatan industri manufaktur pada periode yang sama, Minggu (9/8/2026).

Ketua Banggar DPR Said Abdullah menegaskan bahwa tren penurunan di sektor pengolahan tersebut harus segera diantisipasi agar tidak berdampak lebih buruk. Pasalnya, perlambatan sektor manufaktur berpotensi mengganggu laju pertumbuhan ekonomi nasional secara keseluruhan serta ketersediaan lapangan pekerjaan.

“Pemerintah penting untuk mewaspadai hal ini, sebab industri pengolahan menyumbangkan 18,5% dari PDB, sekaligus menjadi kontributor 13,5% tenaga kerja nasional dan cerminan sebagian besar tenaga kerja formal,” kata Ketua Banggar DPR Said Abdullah.

Risiko Pemangkasan Tenaga Kerja dan Pekerja Informal

Said menjelaskan bahwa sektor industri pengolahan merupakan salah satu penggerak utama perekonomian nasional. Selain menyerap banyak tenaga kerja di sektor formal, industri ini juga memegang peranan vital dalam mendorong kinerja ekspor Indonesia.

Ia mengkhawatirkan jika tekanan pada industri pengolahan terus berlanjut, kondisi tersebut bakal memicu pemutusan hubungan kerja. Efek dominonya adalah penurunan jumlah tenaga kerja formal dan lonjakan pada sektor pekerja informal.

Guna mencegah risiko tersebut, pemerintah didorong mengambil langkah konkret untuk memperbaiki iklim usaha manufaktur dan perdagangan besar, serta memperluas akses pendidikan tinggi yang inklusif untuk meningkatkan daya saing SDM.

“Saya berharap ada program afirmasi dari pemerintah untuk memberikan berbagai jaminan sosial, khususnya ditujukan kepada para pekerja informal, seperti beasiswa, kemudahan akses BPJS, hingga perluasan lapangan kerja,” tutur Said.

Data BPS Soal Laju Industri Pengolahan Q2/2026

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan industri pengolahan pada kuartal II/2026 tercatat hanya sebesar 4,52%. Angka ini melambat jika dibandingkan dengan kuartal II/2025 yang tumbuh 5,60%, maupun kuartal I/2026 yang mencapai 5,14%.

Laju pertumbuhan industri pengolahan saat ini juga berada di bawah tingkat pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 5,29%. Kondisi ini berbalik dibandingkan tahun lalu, di mana pertumbuhan industri manufaktur masih mampu berada di atas laju pertumbuhan ekonomi nasional.

Exit mobile version