Trump Janji Restitusi Pajak Raksasa, Danai dari Triliunan Dolar Bea Masuk

WASHINGTON D.C. — Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali melontarkan gagasan kebijakan fiskal yang menarik perhatian publik. Ia menyatakan pemerintah siap mengembalikan sebagian besar penerimaan bea masuk yang selama ini telah terkumpul kepada masyarakat AS dalam bentuk restitusi pajak raksasa yang dijanjikan akan digelontorkan tahun depan.

Trump mengeklaim bahwa penerimaan bea masuk mencapai nilai yang sangat besar sehingga layak untuk dibagikan kembali kepada wajib pajak.

“Tahun depan akan menjadi tahun dengan restitusi pajak terbesar yang pernah ada. Kami akan memberikan restitusi pajak karena kami telah menerima triliunan dolar AS dari bea masuk.”
— Donald Trump

Trump juga menyinggung bahwa besarnya penerimaan bea masuk membuka peluang bagi pemerintah AS untuk tidak lagi mengenakan pajak penghasilan orang pribadi (PPh orang pribadi) di masa depan. Bahkan jika PPh tetap diberlakukan, menurutnya, pemerintah masih memiliki ruang untuk memangkas tarif PPh orang pribadi secara signifikan berkat tingginya penerimaan bea masuk.

Baca Juga: China Mulai Kenakan PPN pada Alat Kontrasepsi, Dorong Angka Kelahiran

Selain untuk restitusi pajak, Trump menyebut dana bea masuk itu juga akan diarahkan untuk mengurangi utang nasional AS, yang selama beberapa tahun terakhir menjadi sorotan para ekonom.

“Kami akan memberikan manfaat kepada masyarakat dan mengurangi utang,” ujarnya, seperti dilansir usatoday.com.

Namun, sejumlah lembaga pemantau fiskal menilai janji Trump tersebut tidak realistis.

Baca Juga: Thailand Rilis Super Insentif Pajak untuk Energi Bersih hingga 2028

Committee for a Responsible Federal Budget memperkirakan bahwa pendapatan bea masuk AS hanya sekitar US$300 miliar per tahun, jauh dari klaim “triliunan dolar” yang disampaikan Trump. Menurut komite tersebut, angka itu tidak cukup untuk mendanai restitusi pajak skala besar maupun dividen tunai kepada masyarakat.

Mereka menegaskan bahwa pendapatan dari bea masuk seharusnya digunakan terlebih dahulu untuk mengurangi defisit federal, bukan dibagikan kepada wajib pajak.

Baca Juga: Mesir Siapkan Insentif Pajak Jilid II untuk Tarik Investor Global

Trump sendiri telah berulang kali menjanjikan skema pemberian “tariff dividend” senilai US$2.000 per orang, tetapi hingga saat ini belum ada kejelasan mengenai mekanisme penyalurannya. Jika janji itu direalisasikan, AS harus menyediakan anggaran sebesar US$600 miliar, angka yang disebut banyak analis jauh melebihi kapasitas penerimaan bea masuk tahunan AS.

Dengan berbagai proyeksi yang bertolak belakang tersebut, publik kini menunggu apakah janji Trump benar-benar dapat diwujudkan atau sekadar menjadi retorika politik yang memanfaatkan popularitas isu pemotongan pajak di tengah pemilih AS.

Exit mobile version