AS Turunkan Tarif ke China, China Buka Jalur Rare Earth & Kedelai

BUSAN – Pada sebuah pertemuan penuh momentum yang berlangsung di Busan, Korea Selatan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping mencapai sebuah kesepakatan penting yang berpotensi meredakan sengketa dagang yang membara antara dua kekuatan ekonomi besar dunia.Menurut pengumuman yang disampaikan Trump, Amerika Serikat akan menurunkan tarif bea masuk kumulatif atas barang-impor dari China dari 57% menjadi 47% sebagai imbalan atas komitmen China untuk membantu menghentikan masuknya narkotika sintetis fentanyl ke AS.

“China bersedia bekerja sama dengan kami untuk menghentikan aliran fentanyl ke AS. Mereka akan membantu AS mengakhiri krisis fentanyl,”

Lebih lanjut, China sepakat untuk mencabut sebagian kebijakan pengetatan ekspor terkait logam tanah jarang (rare earth). Dari tujuh jenis logam yang sebelumnya dibatasi — yaitu samarium, gadolinium, terbium, dysprosium, lutetium, scandium, dan yttrium — China masih menjaga kontrol atasnya melalui sistem izin khusus. Namun, lima jenis lainnya yakni holmium, erbium, thulium, europium, dan ytterbium resmi ‘dibuka’ akses ekspornya. Trump menyatakan bahwa “semua masalah terkait logam tanah jarang ini sudah diselesaikan” dan bahwa hambatan dagang atas logam tersebut akan ditangguhkan untuk sementara waktu.

Di sisi pertanian, China juga menyatakan kesediaannya untuk kembali mengimpor kedelai dari AS setelah sebelumnya menghentikannya sebagai bentuk retaliasi atas tarif balasan. Xi Jinping menyampaikan bahwa kedua negara besar harus bahu-membahu untuk menciptakan manfaat konkret bagi kedua pihak dan juga bagi komunitas internasional. “Beberapa waktu lalu, tim dari kedua negara berhasil mencapai konsensus dan kemajuan yang menggembirakan. Saya siap untuk terus bekerja sama dengan Anda [Trump] guna membangun pondasi yang kokoh bagi China dan AS,” tuturnya.

Meskipun kesepakatan ini mendapat sambutan positif, para analis memperingatkan bahwa ini masih merupakan gencatan sementara – banyak persoalan struktural yang lebih dalam, seperti teknologi, keamanan, dan hak kekayaan intelektual, belum sepenuhnya tersentuh.

Exit mobile version