Prabowo Minta Harga BBM Nonsubsidi Ikuti Pasar

JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk secara fleksibel menyesuaikan penetapan harga BBM nonsubsidi agar senantiasa mencerminkan pergerakan harga minyak di pasar global, Jumat (7/8/2026).

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjelaskan bahwa penyesuaian tersebut perlu dilakukan secara responsif. Apabila harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) di pasar internasional mengalami penurunan, maka harga produk BBM nonsubsidi di dalam negeri idealnya diturunkan sejalan dengan dinamika tersebut.

“Kalau memang harga ICP dunia menurun, kita juga yang non-subsidinya juga dipertimbangkan untuk disesuaikan dengan harga pasar. Kalau turun ya turun, jangan dinaikkan, kira-kira begitu,” kata Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.

Penahanan Tarif BBM Bersubsidi dan Rincian Harga Pertamina

Di sisi lain, Presiden Prabowo memberikan instruksi tegas kepada Kementerian ESDM untuk memastikan tarif bahan bakar minyak bersubsidi tidak mengalami kenaikan demi menjaga daya beli masyarakat.

“Arahan Bapak Presiden memerintahkan agar menjaga harga BBM dengan subsidi untuk tidak boleh dinaikkan,” tegas Bahlil.

Menindaklanjuti kondisi pasar terkini, PT Pertamina (Persero) telah menanggapi dengan menurunkan banderol beberapa jenis BBM nonsubsidi, seperti Pertamax, Pertamax Turbo, dan Pertamax Green 95.

Harga Pertamax yang sebelumnya sempat melambung hingga Rp16.250 per liter kini resmi diturunkan menjadi Rp15.950 per liter. Selanjutnya, Pertamax Turbo mengalami penurunan harga dari Rp19.300 per liter menjadi Rp18.300 per liter, sedangkan Pertamax Green 95 dipangkas dari Rp17.000 per liter menjadi Rp16.600 per liter.

Adapun untuk jenis bahan bakar diesel nonsubsidi, Pertamina Dex dan Dexlite tidak mengalami perubahan harga, masing-masing tetap dipatok senilai Rp21.150 per liter dan Rp19.700 per liter.

Beban Anggaran Subsidi dan Kompensasi APBN Semester I

Sementara itu, untuk jenis BBM bersubsidi atau BBM yang harga jualnya mendapatkan nilai kompensasi dari pemerintah, yakni Pertalite dan Biosolar, harganya dipastikan tetap bertahan. Pertalite dijual seharga Rp10.000 per liter, sedangkan Biosolar dijual sebesar Rp6.800 per liter.

Kebijakan penahanan harga BBM bersubsidi di tengah ketidakpastian harga energi dunia berimplikasi langsung terhadap pos belanja negara pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Realisasi alokasi belanja subsidi dan kompensasi energi pada APBN per semester I/2026 tercatat telah menembus Rp233 triliun. Angka tersebut mencatatkan pertumbuhan signifikan sebesar 44,4% apabila dibandingkan dengan realisasi belanja pada semester I/2025.

Exit mobile version