JAKARTA – Pemerintah Indonesia menyiapkan strategi khusus dengan rencana menggenjot belanja negara guna menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional. Langkah ini diambil sebagai antisipasi mengingat pada kuartal II/2026 tidak terdapat momentum hari raya keagamaan yang biasanya mendorong tingkat konsumsi masyarakat secara masif.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menjelaskan bahwa aktivitas belanja pemerintah telah terbukti menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi pada kuartal I/2026. Oleh karena itu, pada periode April hingga Juni ini, sektor belanja publik diharapkan kembali menjadi mesin penggerak roda perekonomian yang dominan.
Airlangga optimis bahwa kebijakan ini akan membuahkan hasil positif, terutama karena basis realisasi belanja pada tahun sebelumnya tercatat cukup rendah. Dengan memacu penyerapan anggaran, pemerintah berupaya memastikan likuiditas tetap mengalir ke tengah masyarakat di tengah minimnya faktor musiman konsumsi.
“Untuk pertumbuhan di kuartal II memang salah satu yang kita akan genjot adalah belanja pemerintah. Karena tahun lalu basis belanja pemerintah rendah, dan kuartal I kemarin belanja pemerintah menjadi penopang, dan ini juga akan menjadi penopang di kuartal II,” ujar Airlangga Hartarto, Sabtu (9/5/2026).
Menjaga Daya Beli dan Insentif Konsumsi
Selain mengandalkan belanja negara dari sisi operasional kementerian dan lembaga, pemerintah juga fokus menjaga daya beli masyarakat melalui kebijakan fiskal. Salah satu instrumen yang akan segera direalisasikan adalah penyaluran gaji ke-13 bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) yang dijadwalkan cair pada Juni mendatang.
Tak berhenti di situ, Airlangga membeberkan bahwa pemerintah tengah menggodok sejumlah skema insentif untuk mendongkrak konsumsi domestik. Salah satu yang menjadi sorotan adalah subsidi untuk pembelian motor listrik. Skema kebijakan insentif ini nantinya akan dilaporkan terlebih dahulu kepada Presiden untuk mendapatkan persetujuan akhir sebelum diimplementasikan.
Capaian Pertumbuhan Melampaui Ekspektasi
Meskipun strategi penguatan belanja negara telah dirancang, Menko Airlangga mengaku belum menetapkan proyeksi angka pertumbuhan ekonomi secara spesifik untuk kuartal II/2026. Fokus pemerintah saat ini adalah mempertahankan prestasi kuartal sebelumnya yang berhasil mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,61%.
Angka pertumbuhan pada awal tahun tersebut dinilai sangat baik karena melampaui ekspektasi dari berbagai lembaga internasional. Airlangga menekankan bahwa laju perekonomian Indonesia saat ini merupakan salah satu yang tertinggi jika dibandingkan dengan negara-negara anggota G-20 lainnya yang sudah merilis datanya.
“Pertumbuhan kita yang 5,61% ini adalah tumbuh di atas beberapa negara G-20. Memang dari G-20 ini ada yang belum keluar, India, tetapi di antara negara yang keluar termasuk China, Singapura, Korsel, Arab Saudi, Amerika Serikat, kita yang tertinggi,” pungkas Airlangga menutup keterangannya.














