NAIROBI – Pemerintah Kenya menyiapkan insentif pajak khusus guna mempercepat pembentukan ekosistem kendaraan listrik. Kebijakan ini diarahkan untuk menarik investasi sekaligus mendorong transisi energi menuju sistem transportasi yang lebih ramah lingkungan.
Insentif pajak tersebut akan diberikan untuk suku cadang kendaraan listrik serta stasiun pengisian daya kendaraan listrik. Pemerintah menilai langkah ini penting untuk memperkuat rantai pasok industri kendaraan listrik di dalam negeri.
“Kendaraan listrik sangat penting untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, menurunkan ketergantungan pada bahan bakar fosil impor, dan mendorong pertumbuhan ekonomi melalui manufaktur lokal dan penciptaan lapangan kerja.”
— Davis Chirchir
Bebas PPN dan Bea Masuk Mulai Juli 2026
Dalam beberapa tahun terakhir, Kenya telah lebih dulu memberikan berbagai insentif fiskal untuk kendaraan listrik. Fasilitas tersebut mencakup PPN 0% untuk bus, sepeda, dan sepeda motor listrik, termasuk baterai lithium-ion, serta tarif bea masuk yang lebih rendah untuk kendaraan listrik tertentu.
Kali ini, pemerintah akan memperluas kebijakan tersebut dengan memberikan pembebasan PPN dan bea masuk untuk suku cadang kendaraan listrik dan stasiun pengisian daya kendaraan listrik. Fasilitas pajak ini dijadwalkan mulai berlaku pada Juli 2026.
Dorong Adopsi Kendaraan Listrik Nasional
Berbagai insentif pajak tersebut diyakini mampu mendorong masyarakat beralih dari kendaraan berbahan bakar fosil ke kendaraan listrik. Pemerintah Kenya juga menargetkan 3.000 unit kendaraan listrik akan digunakan di kantor kementerian-kementerian pada akhir 2027.
Langkah ini sejalan dengan komitmen Kenya untuk menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 32% pada 2030 berdasarkan Paris Agreement tentang perubahan iklim. Untuk mencapai target tersebut, pemerintah berupaya mengurangi penggunaan kendaraan berbahan bakar fosil yang dinilai sebagai penyumbang utama emisi karbon.
Pasar EV Kenya Tumbuh Pesat
Pasar kendaraan listrik di Kenya menunjukkan pertumbuhan signifikan. Jumlah kendaraan listrik yang terdaftar melonjak dari 796 unit pada 2022 menjadi 24.754 unit pada 2025. Mayoritas kendaraan tersebut berupa sepeda motor listrik, bus listrik, dan kendaraan angkutan kota listrik.
Penjualan kendaraan listrik—baik sepeda motor, bus, maupun mobil pribadi—diperkirakan akan menyamai penjualan kendaraan berbahan bakar gas dan diesel pada 2042. Kondisi ini menandai pergeseran struktural dalam sistem transportasi Kenya.
Kebijakan kendaraan listrik juga berkembang di negara-negara Afrika lainnya. Rwanda dan Mesir telah menerapkan kombinasi insentif fiskal dan nonfiskal untuk mendorong adopsi kendaraan listrik. Di kedua negara tersebut, perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur dan perakitan kendaraan listrik bahkan memperoleh tax holiday.
