BULELENG – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buleleng, Provinsi Bali, menorehkan terobosan baru dalam sistem administrasi fiskal daerah. Menghadapi tantangan rendahnya kepatuhan warga sekaligus krisis limbah lingkungan yang kian mengkhawatirkan, otoritas setempat meluncurkan inovasi pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) menggunakan sampah plastik yang telah dipilah secara mandiri oleh masyarakat.
Gagasan inovatif ini dinilai sebagai langkah solutif yang memadukan urusan kewajiban finansial negara dengan isu pelestarian lingkungan global. Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Buleleng, Ida Bagus Perang Wibawa, menjelaskan bahwa pendekatan ini sengaja dirancang agar lebih dekat dengan realitas kehidupan sehari-hari masyarakat Bali yang kian terdesak oleh tingginya volume limbah konsumsi.
“Nantinya, sampah-sampah plastik khususnya itu dapat dikonversi secara ekonomi sehingga masyarakat bisa membayar PBB-P2. Ini adalah bagian dari langkah kerja kreatif dan inovatif Bapenda dalam mengoptimalkan pemungutan pajak yang juga tidak terlepas dari isu global, yaitu memerangi sampah plastik.”
— Ida Bagus Perang Wibawa, Kepala Bapenda Buleleng
Mekanisme pelaksanaannya terbilang sangat praktis dan partisipatif. Warga cukup memilah limbah rumah tangga mereka, terutama material berbahan dasar plastik, lalu menyetorkannya ke fasilitas bank sampah terdekat yang telah ditunjuk dan dikelola secara resmi. Timbunan limbah tersebut kemudian akan dikalkulasi dan dikonversi menjadi nilai keekonomian yang sah untuk melunasi tagihan PBB-P2 tahunan mereka. Lewat skema ini, warga yang secara ekonomi sedang menghadapi keterbatasan likuiditas tetap bisa menunaikan kewajiban pajaknya tanpa harus mengeluarkan uang tunai.
Antusiasme terhadap program pelunasan pajak non-konvensional ini turut disuarakan oleh pucuk pimpinan daerah. Bupati Buleleng, Nyoman Sutjidra, menyambut positif pergeseran perilaku warga yang mulai sadar akan nilai ekonomis di balik tumpukan limbah rumah tangganya. Beliau berkomitmen penuh untuk tidak sekadar menjadikan program ini sebagai proyek percontohan sesaat, melainkan akan mengekspansi penerapannya secara masif ke berbagai pelosok wilayah.
Harapan Ekspansi Daerah: “Kami mau tularkan ke desa lain, sehingga nanti betul-betul sampah yang sudah dipilah bisa terkelola. Masing-masing bank sampah yang dimiliki nanti bisa melakukannya dengan optimal.”
Di tengah tuntutan pengelolaan anggaran daerah yang kian mendesak, kolaborasi apik antara Bapenda dan komunitas bank sampah di Buleleng ini patut menjadi cetak biru bagi kabupaten lainnya di Indonesia. Sebuah strategi elegan di mana pemerintah daerah sukses mengamankan penerimaan pajaknya, sekaligus menyelamatkan bumi dari ancaman jeratan limbah plastik yang merusak ekosistem jangka panjang.
