JAKARTA – Pemerintah Indonesia dan Kanada mempercepat persiapan implementasi ICA-CEPA dengan menyelesaikan sejumlah persoalan teknis agar perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif kedua negara dapat diterapkan pada akhir 2026.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai implementasi Indonesia-Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement atau ICA-CEPA berpotensi memperkuat hubungan ekonomi bilateral sekaligus membuka akses pasar, investasi, dan kerja sama yang lebih luas dengan mitra strategis di kawasan Amerika Utara.
Persiapan implementasi kini diarahkan pada penyelesaian berbagai ketentuan teknis yang masih perlu diselaraskan antara kedua negara.
“Pertemuan ini [dengan Menteri Perdagangan Internasional Kanada] menegaskan komitmen bersama Indonesia dan Kanada untuk memastikan ICA-CEPA benar-benar memberikan manfaat nyata bagi pelaku usaha di kedua negara,” ujar Airlangga, Rabu (16/9/2026).
Implementasi ICA-CEPA Ditargetkan Akhir 2026
Airlangga mengatakan Indonesia dan Kanada optimistis dapat menyelesaikan seluruh persiapan yang diperlukan agar ICA-CEPA dapat memasuki tahap implementasi pada akhir 2026.
Perjanjian tersebut sebelumnya telah melalui proses penandatanganan pada September 2025.
Setelah tahap ratifikasi dan persiapan domestik, kedua negara kini memasuki fase menuju implementasi konkret perjanjian perdagangan tersebut.
Fase ini mencakup harmonisasi berbagai prosedur dan ketentuan teknis agar fasilitas perdagangan yang telah disepakati dapat benar-benar digunakan oleh pelaku usaha.
Perjanjian Pertama Indonesia dengan Negara Amerika Utara
ICA-CEPA merupakan perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif pertama Indonesia dengan negara di kawasan Amerika Utara.
Perjanjian tersebut ditandatangani oleh Menteri Perdagangan kedua negara pada September 2025 dan disaksikan oleh kepala negara Indonesia dan Kanada.
Kesepakatan ini menjadi salah satu langkah penting Indonesia dalam memperluas jaringan perjanjian perdagangan dengan mitra di luar kawasan Asia.
Bagi Indonesia, Kanada juga dinilai strategis sebagai pintu masuk menuju pasar Amerika Utara sekaligus sumber investasi dan kerja sama teknologi.
Lebih dari 90% Pos Tarif Kanada Diturunkan atau Dihapus
Salah satu manfaat utama ICA-CEPA adalah liberalisasi tarif perdagangan antara Indonesia dan Kanada.
Kanada akan menghapus atau menurunkan tarif pada lebih dari 90% pos tarif untuk produk asal Indonesia.
Di sisi lain, Indonesia akan melakukan langkah serupa terhadap hampir 86% pos tarif produk Kanada.
Pembukaan akses tarif tersebut diharapkan membuat produk Indonesia memiliki daya saing yang lebih baik ketika memasuki pasar Kanada.
Ekspor Indonesia Diproyeksikan Tembus US$11,8 Miliar
Seiring implementasi penuh perjanjian, ekspor Indonesia ke Kanada diproyeksikan dapat meningkat hingga US$11,8 miliar pada 2030.
Peningkatan tersebut diharapkan berasal dari perluasan akses pasar sekaligus meningkatnya pemanfaatan preferensi tarif oleh eksportir Indonesia.
Dengan biaya masuk yang lebih rendah, berbagai produk Indonesia berpotensi memperoleh ruang yang lebih besar untuk bersaing di pasar Kanada.
Pemerintah juga mendorong pelaku usaha agar memahami ketentuan perjanjian sehingga manfaat akses pasar tersebut dapat digunakan secara maksimal.
Mineral Kritis Jadi Salah Satu Fokus Kerja Sama
Peluang kerja sama yang terbuka melalui ICA-CEPA tidak hanya berada pada perdagangan barang.
Indonesia dan Kanada juga melihat potensi besar dalam pengembangan sektor mineral kritis.
Kerja sama tersebut mencakup hilirisasi mineral kritis, termasuk komoditas yang berkaitan dengan industri baterai dan rantai pasok teknologi energi.
Indonesia memiliki cadangan berbagai mineral strategis, sementara Kanada memiliki pengalaman dan teknologi dalam sektor pertambangan serta pengelolaan mineral kritis.
Energi Bersih dan Terbarukan Juga Dibidik
Energi bersih dan terbarukan juga masuk dalam sektor strategis yang berpotensi dikembangkan kedua negara.
Peluang ini sejalan dengan kebutuhan Indonesia meningkatkan investasi dalam transisi energi sekaligus mengembangkan sumber energi yang lebih berkelanjutan.
Kerja sama dapat diarahkan pada investasi, teknologi, pengembangan industri pendukung, serta penguatan kapasitas sumber daya manusia.
ICA-CEPA diharapkan memberikan kerangka yang lebih pasti bagi perusahaan kedua negara untuk memperluas kerja sama di bidang tersebut.
Agropangan dan Perikanan Berkelanjutan Masuk Prioritas
Selain sektor industri dan energi, peluang kerja sama juga terbuka di bidang agropangan dan perikanan berkelanjutan.
Indonesia memiliki berbagai produk pertanian, makanan olahan, dan hasil perikanan yang berpotensi memperoleh akses lebih luas ke pasar Kanada.
Pada saat yang sama, kerja sama dapat dikembangkan untuk memperkuat standar produksi, keberlanjutan, dan kualitas produk.
Peningkatan standar tersebut penting agar produk Indonesia mampu memenuhi persyaratan pasar Kanada sekaligus bersaing dengan produk dari negara lain.
Infrastruktur hingga Jasa Keuangan dan Digital
Ruang kerja sama juga mencakup pembangunan infrastruktur serta sektor jasa.
Bidang jasa keuangan dan digital menjadi salah satu sektor yang dinilai memiliki potensi karena transformasi digital terus berkembang di kedua negara.
Kesepakatan perdagangan diharapkan dapat menciptakan kepastian yang lebih baik bagi perusahaan dalam mengembangkan bisnis lintas negara.
Selain perdagangan barang, peningkatan investasi dan jasa menjadi bagian penting dalam memperluas dampak ekonomi ICA-CEPA.
Standardisasi Masih Perlu Diselaraskan
Meski peluang ekonomi terbuka luas, Indonesia dan Kanada masih perlu menyelesaikan sejumlah persoalan teknis sebelum implementasi penuh berlangsung.
Salah satu isu yang menjadi perhatian adalah penyesuaian persyaratan standardisasi.
Perbedaan standar produk dan prosedur pengujian berpotensi menjadi hambatan apabila tidak diselaraskan secara baik.
Karena itu, penyelesaian aspek standardisasi diperlukan agar fasilitas tarif yang diberikan tidak terhambat oleh persoalan teknis di lapangan.
Praktik Keberlanjutan dan Ketenagakerjaan Dibahas
Selain standardisasi, kedua negara juga membahas praktik keberlanjutan dan ketenagakerjaan.
Isu tersebut menjadi semakin penting dalam perjanjian perdagangan modern karena akses pasar tidak hanya dipengaruhi tarif, tetapi juga standar produksi dan tata kelola.
Indonesia dan Kanada perlu memastikan implementasi perjanjian dapat berjalan selaras dengan komitmen mengenai ketenagakerjaan dan praktik ekonomi yang berkelanjutan.
Penyelarasan tersebut diharapkan memberikan kepastian kepada pelaku usaha mengenai persyaratan yang harus dipenuhi dalam memanfaatkan ICA-CEPA.
UMKM Disiapkan agar Bisa Manfaatkan Perjanjian
Peningkatan kapasitas usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga menjadi salah satu isu implementasi yang dibahas kedua negara.
Pemerintah ingin memastikan manfaat perjanjian perdagangan tidak hanya dinikmati perusahaan besar.
UMKM perlu memperoleh informasi, pendampingan, dan peningkatan kapasitas agar mampu memenuhi standar ekspor serta memanfaatkan fasilitas perdagangan yang tersedia.
Dengan kesiapan tersebut, akses pasar Kanada diharapkan dapat semakin terbuka bagi produk-produk usaha kecil dan menengah Indonesia.
Logistik dan Fasilitasi Perdagangan Perlu Diperkuat
Penyelesaian persoalan teknis juga dinilai penting untuk memastikan peluang pasar baru dapat dimanfaatkan secara efektif.
Selain tarif, daya saing perdagangan sangat dipengaruhi kualitas infrastruktur logistik dan efisiensi fasilitasi perdagangan.
Penguatan sistem logistik dapat membantu menekan biaya pengiriman dan mempercepat arus barang antara Indonesia dan Kanada.
Fasilitasi perdagangan yang lebih efisien juga diperlukan agar proses administrasi tidak menjadi hambatan bagi pelaku usaha.
Dialog Mineral Kritis Akan Dipercepat
Ke depan, Indonesia dan Kanada sepakat mengarahkan kerja sama menuju implementasi yang lebih konkret.
Salah satu agenda yang akan dipercepat adalah dialog mengenai mineral kritis.
“Ke depan, Indonesia dan Kanada sepakat untuk memfokuskan kerja sama pada implementasi konkret ICA-CEPA, antara lain melalui percepatan dialog kerja sama mineral kritis dan kerja sama teknis ekonomi,” kata Airlangga.
Selain mineral kritis, kerja sama teknis ekonomi juga akan menjadi bagian dari agenda implementasi kedua negara.
ICA-CEPA Masuki Tahap Implementasi Konkret
Dengan target implementasi pada akhir 2026, fokus Indonesia dan Kanada kini bergeser dari tahap penandatanganan menuju pelaksanaan perjanjian di lapangan.
Penyelesaian persoalan standardisasi, keberlanjutan, ketenagakerjaan, peningkatan kapasitas UMKM, serta fasilitasi perdagangan menjadi bagian penting dalam memastikan manfaat perjanjian dapat dirasakan pelaku usaha.
Penghapusan dan penurunan tarif pada sebagian besar pos perdagangan diharapkan membuka peluang ekspor dan investasi yang lebih besar.
Melalui ICA-CEPA, Indonesia juga berharap dapat memperkuat kerja sama dengan Kanada dalam mineral kritis, energi bersih, agropangan, perikanan berkelanjutan, infrastruktur, serta sektor jasa keuangan dan digital.
