JAKARTA – Realisasi belanja barang dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mencatatkan lonjakan fantastis pada awal tahun 2026. Meroketnya pengeluaran negara ini utamanya dipicu oleh eksekusi besar-besaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mulai bergulir masif di berbagai wilayah Tanah Air.
Berdasarkan data Kementerian Keuangan, realisasi belanja barang sepanjang Januari hingga Februari 2026 telah menembus angka Rp67,6 triliun. Capaian ini tumbuh melesat sebesar 269,4 persen apabila disandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Menariknya, dari total nilai yang digelontorkan tersebut, porsi raksasa senilai Rp39 triliun tersedot khusus untuk mendanai pemenuhan gizi.
“Kalau tahun lalu tidak terlalu besar MBG-nya, baru Rp0,3 triliun. Kalau tahun ini sudah Rp39 triliun selama Januari dan Februari. MBG ini kira-kira Rp19 triliun sebulan.”
— Suahasil Nazara, Wakil Menteri Keuangan
Pertumbuhan Belanja Non-MBG Tetap Solid
Hingga pengujung Februari 2026, program unggulan pemerintah ini tercatat telah mendistribusikan manfaat gizi kepada 61,62 juta penerima, baik dari kalangan siswa maupun nonsiswa. Rantai penyaluran ini dikoordinasikan secara terpusat melalui 25.082 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang bersiaga di lapangan.
Kendati demikian, Wakil Menteri Keuangan menegaskan bahwa kinerja mesin APBN tetap menunjukkan daya dorong yang kuat meski efek program MBG dikesampingkan sementara. Apabila pengeluaran gizi gratis ini tidak dihitung, realisasi belanja barang reguler pada dua bulan pertama 2026 tetap tumbuh stabil di angka 58,9 persen, yakni menyentuh Rp28,6 triliun dibandingkan Rp18 triliun pada tahun sebelumnya.
Katalis Pengeluaran: Kehadiran program Makan Bergizi Gratis (MBG) bertindak sebagai akselerator utama yang membuat arus penyerapan anggaran barang bergerak jauh lebih masif dan cepat.
Sebagai gambaran postur keuangan negara secara makro, total realisasi belanja negara hingga Februari 2026 telah mencapai Rp493,8 triliun atau naik 41,9 persen secara tahunan. Di sisi lain, laju pendapatan negara terus membuntuti dengan capaian Rp358 triliun, tumbuh 12,8 persen. Konstelasi penerimaan dan pengeluaran ini menempatkan posisi defisit APBN sementara pada level Rp135,7 triliun, yang ekuivalen dengan 0,53 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).















