JAKARTA – Di tengah bayang-bayang fluktuasi harga energi global yang kian dinamis, pemerintah membawa kabar melegakan bagi masyarakat. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan bahwa harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tidak akan mengalami kenaikan hingga momen Hari Raya Idulfitri 2026 mendatang.
Saat ini, pemerintah tengah meracik langkah-langkah komprehensif untuk membendung dampak gejolak harga minyak mentah dunia. Ketahanan energi nasional menjadi prioritas utama agar daya beli masyarakat tetap terjaga selama periode krusial seperti Ramadan dan Lebaran.
“Saya pastikan agar masyarakat tidak usah merasa bagaimana menyangkut dengan harga, karena sampai dengan Hari Raya Idulfitri ini pasokan BBM terjamin dan Insyaallah enggak ada kenaikan harga BBM untuk subsidi.”
— Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM
Lebih lanjut, Bahlil menegaskan bahwa persoalan yang dihadapi negara saat ini bukanlah kelangkaan pasokan. Cadangan BBM nasional dipastikan dalam kondisi aman dan mumpuni untuk memenuhi lonjakan konsumsi masyarakat hingga 20 hari ke depan. Tantangan sesungguhnya murni terletak pada manajemen harga di tengah ketidakpastian global.
Ancaman Defisit APBN di Balik Gejolak Minyak
Keputusan menahan harga BBM bersubsidi ini sejatinya diambil di tengah pergerakan ekstrem harga minyak mentah global. Pada awal pekan ini, harga minyak dunia bahkan sempat menembus level psikologis US$100 per barel, sebelum akhirnya terkoreksi turun ke kisaran US$85 per barel. Dinamika tajam ini tentu memberikan tekanan tersendiri bagi ruang fiskal negara.
Kementerian Keuangan (Kemenkeu) sebelumnya telah memproyeksikan potensi melebarnya defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Jika rata-rata harga minyak sepanjang tahun 2026 tertahan di angka US$92 per barel, defisit anggaran terancam jebol hingga 3,6% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Langkah Strategis: “Kalau tidak diapa-apain, defisit kita naik ke 3,6% dari PDB. Tapi biasanya kita bisa lakukan langkah-langkah penyesuaian, sehingga kita bisa menjaga tetap di bawah 3%.”
Untuk mencegah skenario terburuk tersebut, pemerintah bersiap menempuh berbagai penyesuaian kebijakan struktural guna menekan defisit agar kembali ke batas aman. Meski penyesuaian harga BBM bersubsidi kerap menjadi salah satu opsi rasional untuk menyehatkan fiskal, komitmen pemerintah untuk melindungi masyarakat dengan menahan harga setidaknya sampai Lebaran usai, dipastikan tetap menjadi prioritas utama saat ini.















