JAKARTA – Perekonomian Indonesia menutup tahun 2025 dengan kinerja yang tetap solid di tengah tekanan global. Kementerian Keuangan menilai ketahanan ekonomi nasional menjadi modal penting untuk menjaga momentum pertumbuhan pada 2026.
Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu, menyampaikan bahwa kekuatan ekonomi Indonesia tercermin dari aktivitas manufaktur yang ekspansif, inflasi yang terkendali, serta surplus neraca perdagangan yang berkelanjutan.
Berbagai indikator tersebut menjadi modal penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat pada 2026.
— Dirjen Strategi Ekonomi dan Fiskal Kemenkeu, Febrio Kacaribu
Manufaktur Ekspansif, Optimisme Usaha Menguat
Salah satu indikator utama ketahanan ekonomi terlihat dari Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Desember 2025 yang tercatat sebesar 51,2. Angka ini menunjukkan fase ekspansi yang telah berlangsung selama lima bulan berturut-turut.
Ekspansi tersebut didorong oleh peningkatan permintaan domestik, bertambahnya penyerapan tenaga kerja, serta meningkatnya aktivitas pembelian bahan baku. Kondisi ini mencerminkan optimisme pelaku usaha terhadap prospek sektor manufaktur ke depan.
Dari sisi global, aktivitas manufaktur negara mitra dagang utama Indonesia juga berada dalam tren ekspansif. PMI manufaktur Amerika Serikat tercatat 51,8, China 50,1, dan India 55,7. Di kawasan ASEAN, PMI Thailand mencapai 57,4 dan Malaysia 50,1, yang memberikan sinyal positif bagi permintaan ekspor Indonesia.
Surplus Perdagangan dan Inflasi Tetap Terkendali
Ketahanan ekonomi nasional juga tercermin dari kinerja neraca perdagangan yang kembali mencatat surplus sebesar US$2,66 miliar. Capaian ini melanjutkan tren surplus yang telah berlangsung sejak Mei 2020.
Secara kumulatif, neraca perdagangan Indonesia sepanjang Januari hingga November 2025 mencatat surplus sebesar US$38,54 miliar, yang menjadi bantalan penting bagi stabilitas eksternal.
Dari sisi harga, inflasi pada akhir 2025 tercatat sebesar 2,92 persen secara tahunan. Angka tersebut mencerminkan stabilitas harga yang tetap terjaga sepanjang tahun, sejalan dengan sasaran inflasi nasional.
Stabilitas inflasi memberi ruang bagi daya beli masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan pemulihan ekonomi.
Keyakinan Konsumen Positif, Fiskal Disiapkan untuk 2026
Indikator ekonomi domestik lainnya juga menunjukkan perkembangan yang positif. Indeks keyakinan konsumen tercatat menguat ke level 124, mencerminkan persepsi optimistis masyarakat terhadap kondisi ekonomi.
Indeks penjualan riil tumbuh 5,94 persen, didorong oleh peningkatan penjualan makanan dan minuman serta mobilitas masyarakat. Selain itu, penjualan listrik pada sektor bisnis juga tumbuh sebesar 6,2 persen.
Menghadapi 2026, pemerintah menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus memperkuat momentum pertumbuhan melalui kebijakan fiskal yang terarah.
Kebijakan fiskal diarahkan untuk mendukung program pembangunan nasional guna memastikan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
— Kementerian Keuangan RI















