JAKARTA – Pemerintah tengah menyusun kuda-kuda pertahanan ekonomi yang lebih kokoh guna melindungi industri dalam negeri dari gempuran persaingan global dan risiko perang tarif dagang. Fokus utama perlindungan ini membidik sektor-sektor padat karya dan strategis, mulai dari tekstil dan produk tekstil (TPT), garmen, sepatu, hingga elektronik.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa Presiden telah memberikan arahan spesifik untuk mengambil posisi defensif yang kuat. Langkah ini tidak hanya untuk bertahan, tetapi juga mencarikan celah pasar baru bagi produk nasional.
“Terhadap industri itu Bapak Presiden minta defensif posisi kita seperti apa, termasuk untuk mencarikan pasar-pasar yang baru. Strategi defensif mencakup penyusunan peta jalan kebijakan yang tepat.”
— Airlangga Hartarto, Menko Perekonomian
Salah satu peta jalan (roadmap) yang tengah digodok adalah target ambisius peningkatan nilai ekspor dalam satu dekade mendatang. Pemerintah menargetkan lonjakan ekspor dari posisi saat ini di kisaran US$4 miliar menjadi US$40 miliar dalam 10 tahun ke depan. Momentum ini juga akan didukung oleh implementasi kerja sama perdagangan Indonesia-Uni Eropa (EU-CEPA) yang diproyeksikan berlaku efektif pada 2027.
Revitalisasi BUMN Tekstil dan Rantai Pasok
Airlangga menyoroti kelemahan fundamental industri tekstil nasional yang terletak di bagian tengah rantai nilai (value chain). Kekosongan ini terjadi pada tahap pemrosesan benang, produksi kain, pewarnaan (dyeing), pencetakan (printing), hingga penyempurnaan akhir (finishing). Ketimpangan di sektor ini membuat daya saing produk lokal melemah di pasar global.
Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah berencana mengambil langkah besar dengan menghidupkan kembali Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di sektor tekstil. Tidak tanggung-tanggung, dukungan pendanaan jumbo telah disiapkan melalui Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara.
Suntikan Dana Jumbo: “Bapak Presiden mengingatkan kita pernah mempunyai BUMN tekstil dan ini akan dihidupkan kembali. Akan ada pendanaan US$6 miliar yang disiapkan oleh BPI Danantara.”
Selain sektor tekstil, ambisi pemerintah juga menyasar kemandirian di sektor teknologi tingkat tinggi, yakni industri semikonduktor. Airlangga menilai, Indonesia tidak boleh hanya puas menjadi “tukang jahit” atau eksportir produk elektronik jadi, tetapi harus mampu menjadi pemain kunci dalam produksi komponen inti seperti chip.
Saat ini, rantai pasok semikonduktor di Indonesia dinilai masih memiliki celah atau “bolong”. Oleh karena itu, investasi besar-besaran akan diarahkan untuk menambal kekurangan tersebut agar Indonesia memiliki kedaulatan di sektor teknologi masa depan.
Langkah-langkah strategis ini, baik di sektor tekstil maupun semikonduktor, menjadi prioritas pemerintah untuk membangun benteng pertahanan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian perang tarif global yang kian memanas.














