JAKARTA – Pemerintah Republik Indonesia terus berupaya memperkokoh perekonomian domestik melalui penguatan sinergi strategis di kancah internasional. Langkah nyata ini diwujudkan dengan memperkokoh implementasi kerja sama TCTP (Two Countries Twin Parks) bersama pihak China guna mendongkrak penanaman modal, perluasan jangkauan perdagangan, serta mempercepat pengembangan kawasan industri di kedua negara.
Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Ekonomi Digital Kemenko Perekonomian, Ali Murtopo Simbolon, mengonfirmasi bahwa sinergi bilateral ini secara khusus diarahkan untuk memacu percepatan proyek-proyek investasi yang telah disepakati sebelumnya. Pertemuan tingkat tinggi kali ini juga membuahkan tambahan komitmen penanaman modal yang signifikan sebagai kelanjutan kerja sama ekonomi kedua negara.
Akselerasi Program Prioritas dan Proyek Unggulan
Evaluasi menyeluruh dilakukan secara bersama oleh Pemerintah Indonesia, Kementerian Perdagangan China, serta jajaran pemerintah Provinsi Fujian. Ketiga pihak bersinergi menetapkan langkah-langkah taktis demi mengoptimalkan program-program prioritas yang berada dalam koridor kemandirian ekonomi kedua belah pihak.
“Pemerintah Indonesia, Kementerian Perdagangan China, dan pemerintah Provinsi Fujian mengevaluasi perkembangan implementasi TCTP sekaligus menyepakati langkah-langkah percepatan program prioritas kerja sama kedua negara,” jelas Ali Murtopo Simbolon, dikutip pada Sabtu (4/7/2026).
Sejumlah poin kesepakatan krusial berhasil diteken oleh kedua belah pihak dalam pertemuan tersebut. Poin utama mencakup komitmen percepatan penyelesaian proyek unggulan (*champion project*) kerja sama antara China State Construction Engineering Corporation (CSCEC) dengan Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB).
Selain itu, kesepakatan juga mencakup perluasan cakupan wilayah kawasan TCTP, akselerasi finalisasi dokumen *Roadmap* TCTP 2026, serta reaktivasi pos penghubung (*contact point*) atau *window* TCTP yang berlokasi di Fuzhou. Langkah ini diiringi dengan upaya perluasan akses pasar bagi komoditas ekspor Indonesia ke China, sekaligus memperkokoh jaringan logistik dan sektor pariwisata.
Peluang Ekspor Durian dan Efisiensi Jalur Kapal Langsung
Ali menilai serangkaian kegiatan ini menegaskan komitmen kuat kedua negara untuk merealisasikan kerangka kerja sama TCTP menjadi deretan proyek konkret di lapangan. Dampak jangka panjangnya diharapkan mampu menghasilkan komitmen investasi baru, merangsang kinerja ekspor-impor, mendorong pertumbuhan industri, meningkatkan penciptaan lapangan kerja, serta memperkuat konektivitas ekonomi Indonesia-China.
Di sektor perdagangan komoditas, pertemuan bilateral ini secara spesifik membuka ruang diskusi mengenai penyediaan akses pasar bagi produk hortikultura unggulan Indonesia. Pemerintah membidik peluang besar agar komoditas seperti buah durian segar serta kelapa dapat menembus pasar konsumen di China dengan prosedur administrasi yang lebih mudah dan lancar.
Kedua belah pihak juga mengkaji secara mendalam opsi pembukaan rute pelayaran langsung (*direct shipping*) menggunakan kapal laut dari Provinsi Fujian menuju kawasan TCTP di Indonesia. Apabila rute pelayaran langsung ini berhasil diwujudkan, pengiriman komoditas tidak perlu lagi melakukan transit di pelabuhan negara ketiga sehingga secara instan menghemat waktu tempuh sekaligus menekan biaya logistik.
Penandatanganan 10 MoU Strategis Bernilai US$10,5 Miliar
Aspek operasional kemitraan ini diperkuat lewat penandatanganan 10 Nota Kesepahaman (MoU) dalam rangkaian acara *China-Indonesia TCTP Economic and Trade Cooperation Matchmaking Conference*. Kesepuluh dokumen kesepahaman tersebut mengikat kerja sama produktif di berbagai sektor industri strategis nasional.
Rincian 10 MoU tersebut mencakup kemitraan di bidang biomedis dan pelaksanaan uji klinis, penguatan sistem keamanan data dan kecerdasan artifisial (AI), sektor perdagangan digital, serta aktivitas manufaktur peralatan rumah tangga. Sektor kesehatan dan penyediaan alat kesehatan, industri herbal, mobilitas kendaraan listrik (*electric vehicle*), manufaktur motor listrik, elektronik, hingga kolaborasi riset dan akademik turut dikerjasamakan.
Melalui tambahan draf komitmen modal baru yang berhasil dihimpun dalam konferensi perdagangan ini, total akumulasi nilai investasi yang masuk dalam kerangka kerja sama TCTP kini secara agregat telah menyentuh angka kurang lebih US$10,5 giliat. Capaian ini diharapkan mampu menjadi fondasi kuat bagi pertumbuhan ekonomi berkelanjutan bagi kedua belah pihak.












