BEIJING – Pemerintah China secara resmi merombak arsitektur perpajakan industri energi terbarukan dengan memberlakukan kembali pajak konsumsi (consumption tax) atas baterai lithium-ion dan sel surya. Kebijakan ini menandai berakhirnya era insentif melimpah bagi manufaktur komponen kendaraan listrik dan panel surya yang kini telah mencapai fase pematangan skala global.
Kementerian Keuangan China mengonfirmasi bahwa penerapan pajak konsumsi ini akan dijalankan secara bertahap. Mulai 1 September 2026, baterai lithium primer, lithium-ion, nickel-metal hydride, serta baterai vanadium redox flow akan dikenakan tarif sebesar 2%, sebelum dinaikkan menjadi 4% pada 1 September 2027. Sementara itu, komponen sel surya atau fotovoltaik akan mulai tersentuh tarif 2% pada 1 April 2027 dan naik menjadi 4% per 1 April 2028.
Langkah balik pembebasan pajak yang sempat berlaku sejak Februari 2015 ini diambil setelah industri rantai pasok energi hijau Negeri Tirai Bambu terbukti mendominasi pasar internasional. Laporan Global EV Outlook 2026 dari International Energy Agency (IEA) mencatat baterai lithium iron phosphate (LFP) buatan China menyumbang lebih dari 55% dari total penggunaan baterai kendaraan listrik dunia pada 2025.
“Penyesuaian instrumen fiskal ini bertujuan untuk mendorong efisiensi pemanfaatan sumber daya, menjaga kelestarian lingkungan, sekaligus memicu akselerasi inovasi ke tingkat yang lebih tinggi.”
— Pernyataan Resmi Kementerian Keuangan Republik Rakyat China
Insentif Bebas Pajak Dialihkan ke Riset Baterai Solid-State dan Perovskite
Kendati memangkas pembebasan pajak bagi teknologi baterai konvensional, Beijing tetap menyediakan karpet merah perpajakan bagi inovasi teknologi hijau generasi berikutnya. Pemerintah membebaskan pajak konsumsi secara penuh mulai 1 September 2026 hingga 31 Desember 2028 bagi pengembang baterai ion natrium, baterai solid-state, baterai perovskite, sel bahan bakar (fuel cell), dan sel fotovoltaik berbahan gallium arsenide.
Pivoting Industri Hijau: Beijing mengalihkan fasilitas pembebasan pajak dari teknologi lithium mature ke pengembangan teknologi masa depan seperti baterai solid-state dan perovskite.
Peralihan insentif ini menegaskan strategi ekonomi Beijing yang tak lagi berfokus pada subsidi kuantitas produksi, melainkan pada keunggulan kualitatif dan penguasaan teknologi terdepan dalam peta persaingan energi terbarukan global.
