LONDON – Rumah tangga di Inggris bersiap menghadapi lonjakan tagihan yang hampir merata pada April 2026, mulai dari pajak daerah, air, hingga layanan telekomunikasi.
Kondisi ini disebut sebagai “April yang mengerikan” karena berpotensi membebani masyarakat di tengah krisis biaya hidup yang belum sepenuhnya pulih.
“Kenaikan tagihan ini berisiko mendorong banyak rumah tangga ke batas kemampuan finansial mereka.”
Meski harga energi sempat mengalami penurunan sementara, kenaikan pajak daerah dan biaya hidup lainnya tetap menjadi tekanan utama bagi masyarakat.
Pajak Daerah Naik Hampir 5 Persen
Rata-rata pajak daerah Band D di Inggris pada tahun 2026/2027 mencapai £2.392 atau naik sekitar £111 dibandingkan tahun sebelumnya.
Kenaikan ini mencakup berbagai komponen biaya tambahan seperti layanan sosial, kepolisian, pemadam kebakaran, dan otoritas lokal lainnya.
Tagihan Air dan Internet Ikut Meningkat
Selain pajak, tagihan air rumah tangga juga diperkirakan naik rata-rata 5,4% atau sekitar £33 per tahun.
Sementara itu, biaya layanan broadband dan telepon seluler juga mengalami kenaikan signifikan, bahkan mencapai hampir £50 per tahun.
Harga Energi Turun Sementara
Kabar baik datang dari sektor energi, di mana tarif diperkirakan turun sekitar 7% mulai 1 April 2026.
Namun demikian, penurunan ini diprediksi hanya bersifat sementara karena adanya potensi kenaikan kembali pada pertengahan tahun akibat faktor global.
Ancaman Kenaikan Tagihan di Masa Mendatang
Sejumlah analis memperkirakan tagihan energi dapat kembali naik hingga lebih dari £300 per tahun, dipicu oleh ketidakstabilan geopolitik.
Kondisi ini semakin memperburuk tekanan biaya hidup yang dihadapi masyarakat Inggris.
Imbauan untuk Menghemat Pengeluaran
Kelompok konsumen mengimbau masyarakat untuk mengecek kontrak layanan dan mempertimbangkan pindah ke penyedia yang lebih murah guna menghemat biaya.
Selain itu, masyarakat juga disarankan untuk memanfaatkan tarif sosial serta bantuan pemerintah bagi kelompok berpenghasilan rendah.
“Banyak rumah tangga belum pulih dari krisis sebelumnya dan kini kembali menghadapi tekanan biaya hidup.”














