JAKARTA – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyatakan bahwa perekonomian Indonesia tetap menunjukkan ketahanan yang kuat. Hal ini tercermin dari indikator utama seperti PMI manufaktur yang terus ekspansif, surplus neraca perdagangan yang stabil, serta inflasi yang melandai.
Dirjen Strategi Ekonomi dan Fiskal Kemenkeu, Febrio Kacaribu, menjelaskan bahwa ketiga indikator positif tersebut didukung oleh permintaan domestik yang masih solid.
“Kami terus memperkuat pertumbuhan ekonomi melalui kebijakan yang terarah, termasuk stimulus kuartal IV/2025, mendorong ekspor bernilai tambah, dan menjaga sektor padat karya.”
— Febrio Kacaribu
Baca juga: Cimahi Bebaskan Denda PBB hingga Akhir Tahun
PMI Manufaktur Tetap Ekspansif
Pada November 2025, PMI manufaktur Indonesia tercatat berada di level 53,3, mengindikasikan aktivitas industri yang masih dalam zona ekspansi. Menurut Febrio, lonjakan permintaan dalam negeri menjadi pendorong utama peningkatan produksi, penyerapan tenaga kerja, hingga aktivitas pembelian menjelang akhir tahun.
Surplus Perdagangan Menguatkan Fondasi Ekonomi
Selain industri manufaktur, sektor perdagangan juga memperkuat optimisme ekonomi. Surplus neraca perdagangan Oktober 2025 mencapai US$24,24 miliar, sementara akumulasi surplus sepanjang Januari–Oktober 2025 tercatat sebesar US$234,04 miliar.
Optimisme ini juga diperkuat oleh peningkatan signifikan pada sejumlah sektor utama:
- Ekspor nonmigas hasil industri pengolahan naik 15,8%
- Ekspor pertanian, kehutanan, dan perikanan melonjak 28,6%
- Impor barang modal naik 18,7% sebagai tanda ekspansi kapasitas produksi
Baca juga: Setoran PPN Merosot, Industri Melemah & Restitusi Membengkak
“Indonesia semakin menunjukkan ketahanan sektor eksternal dan peran strategis dalam perdagangan global,” ujar Febrio.
Inflasi Melandai di November 2025
Febrio juga mengungkapkan bahwa inflasi November 2025 melambat menjadi 2,72%, lebih rendah dari 2,86% pada Oktober. Penurunan ini didorong oleh meredanya tekanan volatile food, yang turun dari 6,59% menjadi 5,48%.
Menurutnya, berbagai langkah stabilisasi harga pangan—terutama untuk komoditas seperti beras, cabai merah, dan daging ayam—cukup efektif meredam gejolak harga.
Baca juga: DJP Dorong Penyelesaian Aktivasi Coretax Jelang Akhir Tahun
Antisipasi Cuaca Ekstrem & Strategi Ekonomi ke Depan
Meskipun inflasi melandai, pemerintah tetap waspada terhadap potensi gejolak harga akibat musim hujan dan cuaca ekstrem yang dapat memengaruhi produksi pangan.
Ke depan, Kemenkeu akan memperkuat fondasi ekonomi melalui:
- Peningkatan daya saing ekspor
- Penguatan ketahanan pangan
- Keberlanjutan hilirisasi SDA
- Diversifikasi mitra dagang
- Antisipasi risiko harga global dan cuaca ekstrem
“Permintaan domestik yang kuat dan stabilitas harga menjadi kombinasi penting untuk menjaga momentum pemulihan ekonomi.”














