JAKARTA – Angin segar berembus bagi masyarakat yang merencanakan mudik Lebaran 2026. Pemerintah tengah menyusun strategi khusus untuk menekan harga tiket pesawat agar lebih terjangkau. Langkah ini diambil guna memacu mobilitas warga yang diyakini menjadi motor penggerak utama pertumbuhan ekonomi domestik.
Sesmenko Perekonomian, Susiwijono Moegiarso, mengungkapkan bahwa kebijakan stimulus ekonomi ini sedang dimatangkan. Salah satu poin utamanya adalah pemberian insentif yang skemanya serupa dengan tahun lalu, yakni melalui fasilitas Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP).
“Kami ingin mengusulkan kalau bisa tiket turun lebih lagi dari sebelumnya yang berada di kisaran 13-16%.”
— Susiwijono Moegiarso (Sesmenko Perekonomian)
Evaluasi Stimulus Nataru dan Target Penurunan Harga
Sebagai catatan, pada periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) lalu, pemerintah telah menyuntikkan stimulus PPN DTP sebesar 6%. Hasilnya cukup signifikan; harga tiket pesawat berhasil dipangkas hingga 14% melalui kombinasi empat jenis keringanan teknis.
Selain PPN DTP, komponen pemotong harga mencakup diskon fuel surcharge (biaya tambahan bahan bakar), pemotongan biaya pelayanan jasa penumpang (PJP2U), serta biaya jasa pendaratan dan penyimpanan pesawat (PJP4U). Untuk Lebaran 2026, pemerintah berharap angka penurunan harga bisa melampaui capaian periode Nataru tersebut.
Stimulus Multimoda demi Daya Beli Masyarakat
Tidak hanya transportasi udara, Susiwijono menegaskan bahwa stimulus ini akan mencakup transportasi laut dan darat. Langkah percepatan penyusunan kebijakan ini dilakukan agar masyarakat bisa segera melakukan reservasi tiket lebih awal dengan harga yang sudah tersubsidi.
Pemerintah optimistis bahwa intervensi harga tiket ini akan menjaga daya beli masyarakat selama momentum Ramadhan hingga Idulfitri pada kuartal I/2026. Dengan harga transportasi yang ramah kantong, roda perekonomian di daerah diharapkan dapat bergerak lebih kencang seiring dengan meningkatnya konsumsi rumah tangga.
Harapan Pemerintah: Penurunan harga tiket hingga belasan persen diharapkan dapat meningkatkan volume perjalanan nasional secara signifikan.













