JAKARTA – Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai pencapaian pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal II/2026 yang sebesar 5,29% tergolong relatif tinggi, terutama bila melihat besarnya tekanan dunia usaha sepanjang periode tersebut, Jumat (7/8/2026).
Ketua Umum Apindo Shinta W. Kamdani mengungkapkan bahwa berbagai tantangan berat harus dihadapi pelaku industri, salah satunya lonjakan harga minyak dunia akibat kecamuk perang di kawasan Timur Tengah.
Kondisi tersebut memicu lonjakan ongkos produksi bagi sebagian besar industri manufaktur (*cost-push inflation*), sehingga memaksa para pengusaha menyesuaikan harga jual produk di pasar.
“Kuartal II/2026 merupakan kuartal yang berat karena banyak industri yang cost-push inflation imbas konflik di Selat Hormuz, serta terjadi efek pelemahan nilai tukar terhadap peningkatan beban biaya produksi dan bahan baku impor,” kata Ketua Umum Apindo Shinta W. Kamdani.
Disrupsi Geopolitik Global dan Hambatan Perdagangan Ekspor
Shinta menjelaskan, eskalasi ketegangan geopolitik serta ketidakpastian ekonomi global yang berlangsung sejak pecahnya perang antara Amerika Serikat dan Iran pada Februari 2026 turut menekan daya beli masyarakat di sejumlah negara tujuan ekspor. Imbasnya, volume permintaan pasar global mengalami penurunan drastis.
Selain pelemahan daya beli global, sektor ekspor Indonesia juga terganggu oleh berbagai isu perdagangan internasional. Salah satu hambatan utama datang dari investigasi yang diluncurkan oleh United States Trade Representative (USTR) terhadap Indonesia, terkait dugaan kapasitas produksi manufaktur berlebih serta penelusuran rantai pasok barang hasil kerja paksa.
“Demand ekspor di kuartal II/2026 juga turut terganggu karena isu-isu perdagangan seperti investigasi AS terhadap Indonesia,” tutur Shinta.
Pelemahan Pasar Domestik dan Pentingnya Menjaga Momentum Semester II
Tidak hanya tekanan dari pasar luar negeri, para pelaku usaha di dalam negeri juga dihadapkan pada pelemahan daya beli pasar domestik. Kondisi ini dipicu oleh dampak kenaikan harga BBM yang langsung memukul aktivitas perekonomian di sektor riil sepanjang kuartal II/2026.
Akibat rentetan disrupsi pada komponen penawaran (*supply*) maupun permintaan (*demand*), kinerja sektor riil dirasakan cukup berat sehingga mendorong mayoritas pelaku usaha untuk mengambil langkah hati-hati dan menunda rencana ekspansi bisnis mereka.
“Ini bukan berarti di sektor riil tidak ada industri yang ekspansi. Kami meyakini tetap ada, tapi tidak banyak dan tidak menjadi tren industri mainstream karena banyaknya disrupsi yang terjadi di sisi demand pasar maupun di sisi komponen supply dan biaya produksi,” ujar Shinta.
Memasuki paruh kedua atau semester II/2026, Apindo mengingatkan pemerintah bahwa momentum pertumbuhan ekonomi nasional masih tergolong rapuh sehingga perlu dijaga secara konsisten. Langkah stabilisasi perekonomian sangat krusial agar dunia usaha dapat kembali pulih dan menguat hingga penutupan tahun.
“Kami tentu mengapresiasi data capaian pertumbuhan kuartal II/2026 yang mencapai 5,29%. Ini adalah capaian yang sangat positif dan perlu kita pastikan agar dapat bertahan, bahkan naik hingga akhir tahun,” pungkas Shinta.

