“Momentum pertumbuhan itu akan kita jaga terus tahun depan, tahun depannya lagi, tahun depannya lagi.”
— Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan
Penopang: Konsumsi Pulih & Likuiditas Bertambah
Pada September 2025, indikator konsumsi rumah tangga mulai membaik. Salah satu pendorongnya adalah kebijakan penempatan dana pemerintah senilai Rp 200 triliun di perbankan. Program ini mulai berjalan pada 13 September 2025, sehingga efeknya ke aktivitas ekonomi riil diperkirakan kian masif pada tiga bulan terakhir tahun ini.
Sebagai bagian dari penguatan sisi kas negara dan pengelolaan likuiditas, pemerintah juga melakukan diversifikasi rekening kas. Baca juga:
Pemerintah tambah rekening kas negara, kini bisa pakai dolar Australia & yuan Hong Kong.
Rangkaian Stimulus: Bansos Tebal, Insentif Pajak, dan Paket 8 + 4 + 5
Di luar penempatan dana pemerintah, kabinet juga menebalkan bantuan sosial dan memperluas insentif pajak. Sesudah mengumumkan 17 program paket ekonomi bertajuk 8 + 4 + 5, pemerintah tengah menyiapkan stimulus tambahan untuk mengakselerasi pertumbuhan.
Upaya perbaikan kepatuhan pajak di daerah pun digencarkan. Baca juga:
Semangat Hari Pahlawan, Mojokerto hapus denda pajak hingga akhir tahun.
Di Atas Proyeksi Global?
Purbaya optimistis pertumbuhan ekonomi 2025 berpeluang melampaui proyeksi lembaga internasional. World Bank sebelumnya memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh 4,8% pada 2025–2026. Namun, perhitungan Ditjen Strategi Ekonomi dan Fiskal memproyeksikan 5,5% pada kuartal IV/2025. Jika stimulus tambahan diluncurkan, pertumbuhan 2025 disebut bisa menyentuh kisaran 5,67% pada kuartal IV/2025.
“Seharusnya arah ekonomi akan lebih bagus. Kalau itu terjadi, momentum pertumbuhan akan dijaga berkelanjutan,” tegasnya.















