“Melalui kegiatan seperti ini, kami berharap mahasiswa dapat memahami peran strategis Bea Cukai dalam mendukung iklim usaha yang sehat dan mendorong ekspor nasional,” ujar Budi, dikutip Kamis (30/10/2025).
Ia menjelaskan, kegiatan tersebut juga menjadi sarana memperkenalkan fungsi utama Bea Cukai, yakni pelayanan, pengawasan, serta kontribusi terhadap penerimaan negara. Menurut Budi, generasi muda perlu memahami bahwa kepabeanan dan cukai tidak hanya soal pungutan, tetapi juga pilar penting dalam menjaga stabilitas ekonomi.
Baca juga: Purbaya Dorong Pemda Maksimalkan Belanja Produktif
Budi menambahkan, beberapa unit vertikal DJBC turut melaksanakan kegiatan serupa di berbagai daerah. Misalnya, Kantor Bea dan Cukai Kendari bekerja sama dengan Balai Diklat Keuangan Makassar dalam kuliah umum di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Halu Oleo. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa diperkenalkan pada konsep perdagangan internasional dan mekanisme pengawasan barang masuk maupun keluar negeri.
Sementara itu, Kantor Bea dan Cukai Pangkalpinang menjadi pembicara dalam kuliah umum yang digelar Universitas Bangka Belitung (UBB). Para mahasiswa diajak mengenal lebih dalam mengenai peran Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), serta bagaimana DJBC sebagai bagian dari Kementerian Keuangan berperan menjaga keseimbangan fiskal negara.
Kegiatan serupa juga dilakukan oleh Kanwil Bea dan Cukai Kalimantan Bagian Selatan yang berpartisipasi dalam acara bertajuk Fiscal Tech Harmony: Membangun Sinergi Akuntansi Digital dan Sistem Cukai dalam Mewujudkan Akuntabilitas di Era 5.0. Acara ini diselenggarakan oleh Universitas Lambung Mangkurat dan menyoroti pentingnya transformasi digital dalam sistem fiskal nasional.
“Kolaborasi antara dunia akademik dan instansi pemerintah sangat penting untuk meningkatkan pemahaman generasi muda terhadap kebijakan fiskal, khususnya di bidang perpajakan dan kepabeanan,” jelas Budi.
Ia menambahkan, sinergi tersebut diharapkan dapat memperkuat ekosistem literasi fiskal nasional. Melalui kegiatan ini, DJBC berupaya menumbuhkan kesadaran bahwa pajak, cukai, dan kepabeanan adalah instrumen penting untuk membiayai pembangunan serta menjaga keberlanjutan ekonomi Indonesia.
Baca juga: Bea Cukai Perkuat Kolaborasi Industri Lewat Kunjungan ke Pabrik Petrokimia dan Sepatu
Menurut Budi, kegiatan literasi fiskal ini juga dapat membuka peluang karier bagi mahasiswa yang tertarik berkiprah di sektor keuangan negara. Dengan memahami mekanisme kebijakan fiskal sejak dini, para mahasiswa diharapkan mampu menjadi agen perubahan dalam menciptakan sistem ekonomi yang transparan dan akuntabel.
Selain memberikan wawasan teoretis, DJBC juga mengajak peserta untuk berdiskusi mengenai isu-isu aktual seperti digitalisasi layanan kepabeanan, pengawasan barang kena cukai, dan upaya pencegahan penyelundupan. Materi ini dirancang agar relevan dengan perkembangan ekonomi global dan revolusi industri 5.0 yang semakin menuntut efisiensi serta integritas sistem fiskal.
“Sinergi Bea Cukai dan dunia akademik menjadi kunci dalam membangun literasi fiskal yang kuat dan berkelanjutan bagi kemajuan bangsa.”
Ke depan, DJBC berencana memperluas program edukasi ini ke lebih banyak kampus di seluruh Indonesia. Program tersebut diharapkan menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk meningkatkan kesadaran generasi muda mengenai pentingnya kepatuhan terhadap aturan kepabeanan dan cukai.
Langkah DJBC ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk menciptakan masyarakat yang lebih melek fiskal. Dengan dukungan akademisi dan mahasiswa, diharapkan nilai-nilai integritas dan kepatuhan pajak dapat tertanam sejak dini, menjadi pondasi bagi pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkeadilan.















