Program CITA menjadi bagian penting dalam upaya pemerintah Indonesia untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, inklusif, dan tangguh. Melalui pinjaman ini, ADB ingin membantu Indonesia menyiapkan ekosistem bisnis yang adaptif terhadap tantangan global dan mempercepat transformasi menuju industri hijau berdaya saing tinggi.
“Indonesia berkomitmen mencapai status negara berpenghasilan tinggi pada 2045, upaya yang memerlukan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dan transformasi struktural.”
Jiro Tominaga, Direktur ADB untuk Indonesia (15/10/2025)
Fokus Utama Program CITA-3
Subprogram CITA-3 berfokus pada reformasi kebijakan yang mendorong transformasi industri Indonesia. Langkah-langkah tersebut mencakup peningkatan kemudahan berusaha, penguatan iklim investasi, dan perluasan akses pasar internasional. ADB menilai, tahapan baru ini menjadi kunci untuk menciptakan lingkungan ekonomi yang lebih tangguh di tengah tantangan iklim global.
- Menarik investasi ke usaha hijau dan berkelanjutan.
- Mengurangi hambatan perdagangan dan menyederhanakan prosedur lintas batas.
- Memberdayakan pelaku usaha daerah, termasuk yang dimiliki perempuan.
- Memutakhirkan sistem perizinan online untuk penerbitan izin otomatis.
- Menstimulasi ekosistem kendaraan listrik melalui insentif perpajakan.
- Memperkuat dukungan bagi UMKM agar naik kelas dan berdaya saing ekspor.
Selain itu, ADB juga menyoroti pentingnya modernisasi logistik nasional dan digitalisasi layanan pemerintah sebagai faktor utama peningkatan efisiensi perdagangan.
Baca juga: PPh Pesangon dan Pensiun Digugat ke MK, Purbaya: Pemerintah Tak Akan Kalah
Melanjutkan Momentum Tahap 1 & 2
Program ini melanjutkan dua subprogram sebelumnya yang disetujui pada Oktober 2021 dan September 2023. Pada dua fase awal, ADB membantu Indonesia membangun fondasi ekonomi yang tangguh pascapandemi Covid-19. Pencapaiannya meliputi peluncuran platform digital perizinan usaha, penerapan Rencana Logistik Nasional untuk mendorong efisiensi rantai pasok, serta pembangunan sistem single window yang menyederhanakan ekspor-impor.
Pemerintah juga mulai menerapkan kebijakan fiskal hijau, seperti insentif pajak bagi investasi ramah lingkungan dan kendaraan listrik. Reformasi ini diharapkan menarik lebih banyak investasi asing langsung, menciptakan lapangan kerja, serta memperluas kontribusi sektor UMKM terhadap PDB nasional.
Baca juga: Purbaya Selektif Salurkan Dana ke BPD: Hanya untuk yang Bersih dan Kredibel
Dampak yang Diharapkan
ADB menilai pinjaman ini akan membantu Indonesia menciptakan fondasi yang lebih kuat untuk pertumbuhan jangka panjang. Dengan meningkatnya investasi hijau, transformasi industri, serta digitalisasi perdagangan, Indonesia diharapkan menjadi pusat produksi regional yang kompetitif. Selain itu, kebijakan ini akan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global dan mendukung target penurunan emisi karbon nasional.
Secara sosial, pemberdayaan perempuan dan pelaku UMKM menjadi prioritas agar manfaat pembangunan ekonomi dapat dirasakan secara merata di seluruh wilayah. Pemerintah pun menargetkan peningkatan lapangan kerja baru dan peningkatan produktivitas di sektor industri manufaktur dan jasa.
“CITA-3 bukan hanya program ekonomi, tetapi juga strategi besar menuju transformasi hijau yang inklusif dan berkeadilan,” tulis ADB dalam pernyataan resminya.
Langkah-langkah ini juga sejalan dengan Strategi Kemitraan Negara ADB 2025–2029 yang berfokus pada pertumbuhan inklusif, ketahanan iklim, dan peningkatan daya saing global Indonesia.















