LONDON – Pernyataan Musim Semi (Spring Statement) yang disampaikan Menteri Keuangan Inggris Rachel Reeves memberikan kabar yang relatif melegakan bagi para wajib pajak. Dalam pernyataan tersebut, pemerintah tidak mengumumkan adanya kenaikan tarif pajak baru pada tahun ini.
Meski demikian, para ekonom mengingatkan bahwa masyarakat sebaiknya tidak terlalu cepat merasa lega. Walaupun tarif pajak tidak dinaikkan secara langsung, beban pajak secara keseluruhan tetap diperkirakan meningkat dalam beberapa tahun ke depan.
“Tidak ada kenaikan pajak baru hari ini, tetapi bukan berarti beban pajak masyarakat tidak akan meningkat.”
Salah satu faktor utama yang menyebabkan kenaikan tersebut adalah kebijakan fiscal drag. Kebijakan ini terjadi ketika batas penghasilan yang dikenakan tarif pajak tertentu tidak disesuaikan dengan inflasi atau pertumbuhan upah.
Akibatnya, seiring meningkatnya pendapatan masyarakat dari waktu ke waktu, semakin banyak individu yang secara otomatis masuk ke dalam kelompok tarif pajak yang lebih tinggi.
Dalam Anggaran terakhir, pemerintah memperpanjang kebijakan pembekuan batas tarif pajak hingga tahun 2031. Kebijakan ini diperkirakan akan meningkatkan penerimaan negara secara signifikan tanpa perlu menaikkan tarif pajak secara resmi.
Beban Pajak Diproyeksikan Mencapai Rekor
Perkiraan ekonomi terbaru yang dirilis pada Selasa menunjukkan bahwa beban pajak Inggris yaitu proporsi pendapatan nasional yang masuk ke kas pemerintah diperkirakan akan meningkat hingga mencapai sekitar 38% pada tahun 2031.
Angka tersebut merupakan salah satu tingkat beban pajak tertinggi dalam sejarah modern Inggris.
Selain kebijakan pembekuan batas tarif pajak, sejumlah faktor ekonomi global juga berpotensi memengaruhi arah kebijakan fiskal pemerintah ke depan.
Perkiraan ekonomi ini diselesaikan hanya beberapa hari sebelum terjadinya serangan terhadap Iran yang menyebabkan lonjakan harga energi di pasar internasional.
Kondisi tersebut menimbulkan ketidakpastian baru mengenai prospek ekonomi global dan stabilitas harga energi.
Jika volatilitas harga energi berlangsung dalam waktu lama, sejumlah ekonom menilai pemerintah kemungkinan akan kesulitan untuk mengakhiri pembekuan fuel duty atau pajak bahan bakar pada Anggaran berikutnya.
Risiko Fiskal dan Tekanan Belanja
Selain faktor energi, risiko lain juga datang dari inflasi yang lebih tinggi, kemungkinan kenaikan suku bunga, serta perlambatan pertumbuhan ekonomi.
Kondisi tersebut berpotensi menekan ruang fiskal pemerintah dan mempersulit upaya untuk menjaga keseimbangan anggaran.
Rachel Reeves sebelumnya menetapkan aturan fiskal bahwa pemerintah hanya boleh berutang untuk investasi jangka panjang, bukan untuk menutup pengeluaran rutin negara.
Namun jika tekanan ekonomi meningkat, pemerintah berpotensi menghadapi dilema antara mempertahankan disiplin fiskal atau meningkatkan pengeluaran publik.
Lembaga peramal resmi pemerintah, Office for Budget Responsibility (OBR), juga memperingatkan adanya sejumlah risiko tambahan dalam beberapa tahun ke depan.
Di antaranya adalah meningkatnya kebutuhan anggaran untuk sektor pertahanan serta layanan kesehatan.
Tantangan Produktivitas dan Pertumbuhan
Faktor lain yang turut memengaruhi kondisi fiskal adalah tingkat produktivitas sektor publik. Beberapa layanan publik utama, termasuk NHS dan sistem peradilan, dinilai masih belum kembali ke tingkat efisiensi sebelum pandemi.
Meskipun beberapa sektor mulai menunjukkan perbaikan, sejumlah analis menilai asumsi pemerintah mengenai peningkatan produktivitas masih terlalu optimistis.
Jika produktivitas tidak meningkat sesuai perkiraan, pemerintah kemungkinan harus mencari tambahan dana hingga miliaran pound hanya untuk mempertahankan layanan publik yang ada.
Secara teoritis, solusi paling ideal adalah peningkatan pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat karena pertumbuhan ekonomi yang kuat akan meningkatkan penerimaan pajak secara otomatis.
Namun pemerintah juga mengakui bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk memperbaiki prospek pertumbuhan ekonomi Inggris dalam jangka menengah.
Melalui Spring Statement ini, pemerintah berupaya menunjukkan bahwa kondisi keuangan publik tetap berada pada jalur yang stabil. Meski demikian, berbagai risiko ekonomi global membuat prospek kebijakan pajak ke depan tetap menjadi perhatian bagi pemerintah maupun para wajib pajak.














