website Berita Pajak TerUpdate Cepat, Akurat, dan Mendalam."
No Result
View All Result
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
    • Info Grafis
    • Pandu News
  • Literasi Perpajakan
    • Edukasi Perpajakan
    • Panduan Pajak
  • PajakNow Tools
    • Kurs Pajak
    • Narasi Data Pajak
    • Tarif bunga dan sanksi pajak
  • Putusan dan Analisis
    • Analisis dan insight
    • Putusan Pengadilan Pajak
Friday, 30 October 2026
Putusan Pajak
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
    • Info Grafis
    • Pandu News
  • Literasi Perpajakan
    • Edukasi Perpajakan
    • Panduan Pajak
  • PajakNow Tools
    • Kurs Pajak
    • Narasi Data Pajak
    • Tarif bunga dan sanksi pajak
  • Putusan dan Analisis
    • Analisis dan insight
    • Putusan Pengadilan Pajak
No Result
View All Result
website Berita Pajak TerUpdate Cepat, Akurat, dan Mendalam."
No Result
View All Result
Home Berita Nasional

Tarif PPh Emas Bullion 2025 Sesuai PMK 51

Johannes Albert by Johannes Albert
September 1, 2025
in Nasional
0 0
0
Tarif PPh Emas Bullion 2025 Sesuai PMK 51
0
SHARES
23
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

JAKARTA – Pemerintah melalui PMK 51 Tahun 2025 resmi menetapkan ketentuan baru mengenai PPh Pasal 22 atas transaksi emas bullion. Aturan yang berlaku sejak 1 Agustus 2025 ini mengenakan tarif pajak sebesar 0,25% dari nilai jual emas. Regulasi tersebut hadir sebagai bagian dari strategi memperkuat basis penerimaan negara, sekaligus menciptakan ekosistem perdagangan emas yang transparan.

Latar Belakang Aturan Baru

Selama ini, transaksi emas sering menjadi perhatian karena memiliki nilai ekonomi tinggi dan rawan disalahgunakan untuk praktik penghindaran pajak. Pemerintah ingin memastikan bahwa setiap transaksi tercatat dengan baik, sehingga penerimaan negara dari sektor emas lebih optimal. Selain itu, aturan ini juga dirancang agar tidak memberatkan konsumen akhir. Konsumen yang membeli emas untuk kebutuhan pribadi tidak dikenakan PPh 22, melainkan hanya PPN 1,65% pada emas perhiasan.

“Aturan ini membuat pajak emas lebih sederhana, adil, dan transparan bagi seluruh pelaku industri.”

Siapa yang Wajib Dipungut PPh 22?

Menurut PMK 51/2025, pemungutan PPh Pasal 22 berlaku dalam kondisi berikut:

  • Lembaga Jasa Keuangan (LJK) bullion saat membeli emas batangan, kecuali nilai transaksi ≤ Rp10 juta.
  • Pedagang perhiasan atau pabrikan emas batangan saat menjual ke pihak selain konsumen akhir, WP PPh final, atau WP dengan SKB PPh 22.

Dengan ketentuan ini, pemerintah menegaskan bahwa kewajiban pajak difokuskan pada sektor usaha atau perdagangan emas dalam jumlah besar, bukan pada pembelian kecil oleh masyarakat umum.

Baca juga: Prabowo & DPR Siap Cabut Tunjangan Tunda Kunker

Cara Hitung Pajak Emas Bullion dan Perhiasan

Pemerintah juga menyertakan simulasi untuk mempermudah pemahaman masyarakat:

Jenis TransaksiNilai PenjualanTarif PajakPajak Terutang
Emas Batangan (pabrikan)Rp180.000.0000,25% (PPh 22)Rp450.000
Emas Perhiasan (konsumen)Rp75.000.0001,65% (PPN)Rp1.237.500

Dari tabel tersebut, terlihat jelas perbedaan skema perpajakan antara emas bullion dan perhiasan.
Konsumen akhir tetap dilindungi dari beban ganda, sedangkan sektor usaha besar wajib berkontribusi lebih besar pada penerimaan negara.

Baca juga: Sri Mulyani Sampaikan Pesan Usai Aksi Massa

Dampak terhadap Industri Emas

Regulasi ini diyakini akan membawa dampak positif bagi industri emas nasional. Dengan tarif relatif kecil (0,25%), aturan ini tidak menekan margin pedagang atau pabrikan, namun tetap menjamin kontribusi pajak. Selain itu, aturan ini juga meningkatkan kepercayaan investor, baik dalam maupun luar negeri, karena adanya transparansi dalam sistem perdagangan emas.

Di sisi lain, pemerintah tetap harus mengawasi praktik di lapangan. Sebab, sebagian pedagang mungkin berusaha menghindari kewajiban dengan memecah transaksi di bawah Rp10 juta. Oleh karena itu, DJP diminta memperkuat sistem pengawasan berbasis data dan digitalisasi transaksi.

Harapan Pemerintah dan Proyeksi ke Depan

Pemerintah berharap penerapan PMK 51/2025 mampu meningkatkan penerimaan pajak tanpa mengganggu iklim usaha. Dengan dukungan teknologi dan kerja sama dengan asosiasi emas, diharapkan kepatuhan sukarela meningkat. Selain itu, penerimaan negara dari sektor emas dapat mendukung target APBN 2026 yang dipatok lebih dari Rp2.357 triliun.

Tak hanya itu, aturan ini juga menjadi bagian dari strategi jangka panjang menuju integrasi penuh antara sektor perdagangan emas dengan sistem Coretax DJP. Jika integrasi berjalan baik, setiap transaksi emas akan lebih mudah diawasi dan dicatat, sehingga shadow economy di sektor ini bisa ditekan.

Sumber Terkait:

  • Kementerian Keuangan RI
  • Direktorat Jenderal Pajak (DJP)
Tags: Emas BullionPajak EmasPMK 51/2025PPh 22PPN Emas
Johannes Albert

Johannes Albert

Stay Connected test

  • 24k Followers
  • 99 Subscribers
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Begini Cara Update Data Pemegang Saham di Sistem Coretax

Mudah dan Cepat! Ini Cara Ambil e-SPPT PBB Jakarta Secara Online

April 23, 2026
Aturan Baru DHE SDA Mulai Berlaku 1 Juni 2026

Aturan Baru DHE SDA Mulai Berlaku 1 Juni 2026

May 18, 2026
PBPK Jadi Tonggak Baru Keseragaman Pelaporan Keuangan Nasional

Email Tak Aktif Saat Aktivasi Coretax? Ini Solusi Resmi dari DJP

December 30, 2025
Begini Cara Update Data Pemegang Saham di Sistem Coretax

Ketentuan Baru Pelaporan Struktur Manajemen Perusahaan dalam Coretax.

April 30, 2026
Pemutihan Pajak Kendaraan 2026: Ada Diskon hingga Penghapusan Denda

Pemutihan Pajak Kendaraan 2026: Ada Diskon hingga Penghapusan Denda

14
Integrasi Data Tanah, Parigi Moutong Bidik Potensi Pajak Baru

Integrasi Data Tanah, Parigi Moutong Bidik Potensi Pajak Baru

10
Restitusi Pajak Tembus Rp198,71 Triliun, PPN dan PPnBM Mendominasi

Restitusi Pajak Tembus Rp198,71 Triliun, PPN dan PPnBM Mendominasi

6
Memahami Penghitungan PPh Final bagi Pengusaha Kecil pada 2026

Memahami Penghitungan PPh Final bagi Pengusaha Kecil pada 2026

5
DTA Jersey-Oman Diteken, Investasi Dua Arah Didorong

DTA Jersey-Oman Diteken, Investasi Dua Arah Didorong

October 30, 2026
Metode Koreksi Laporan Pajak Beralih, Wajib Pajak Perlu Cermati Aturan Baru

Metode Koreksi Laporan Pajak Beralih, Wajib Pajak Perlu Cermati Aturan Baru

October 30, 2026
Kebijakan Fiskal Indonesia Jadi Kunci Pendanaan Energi Bersih

Kebijakan Fiskal Indonesia Jadi Kunci Pendanaan Energi Bersih

October 30, 2026
DJP Dorong Profesionalisme Konsultan Pajak dalam Edukasi

DJP Dorong Profesionalisme Konsultan Pajak dalam Edukasi

October 30, 2026

Recent News

DTA Jersey-Oman Diteken, Investasi Dua Arah Didorong

DTA Jersey-Oman Diteken, Investasi Dua Arah Didorong

October 30, 2026
Metode Koreksi Laporan Pajak Beralih, Wajib Pajak Perlu Cermati Aturan Baru

Metode Koreksi Laporan Pajak Beralih, Wajib Pajak Perlu Cermati Aturan Baru

October 30, 2026
Kebijakan Fiskal Indonesia Jadi Kunci Pendanaan Energi Bersih

Kebijakan Fiskal Indonesia Jadi Kunci Pendanaan Energi Bersih

October 30, 2026
DJP Dorong Profesionalisme Konsultan Pajak dalam Edukasi

DJP Dorong Profesionalisme Konsultan Pajak dalam Edukasi

October 30, 2026

Menu

  • Home
  • Berita
  • Literasi Perpajakan
  • Putusan dan Analisis
  • PajakNow Tools

Layanan Informasi

  • Pedoman Media Siber
  • Hak Cipta
  • Kebijakan Privasi
  • Media Partner
  • Hubungi
  • Disclaimer

© 2026 pajaknow.id - Berita Pajak yang Akurat, Cepat dan Lengkap.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Berita
    • Regional
    • Nasional
    • Internasional
    • Info Grafis
    • Pandu News
  • Literasi Perpajakan
    • Edukasi Perpajakan
    • Panduan Pajak
  • PajakNow Tools
    • Kurs Pajak
    • Narasi Data Pajak
    • Tarif bunga dan sanksi pajak
  • Putusan dan Analisis
    • Analisis dan insight
    • Putusan Pengadilan Pajak

© 2026 pajaknow.id - Berita Pajak yang Akurat, Cepat dan Lengkap

Go to mobile version