WASHINGTON D.C., — Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berencana menyalurkan tariff dividend berupa stimulus tunai senilai US$2.000 mulai pertengahan tahun depan. Program ini mengandalkan penerimaan bea masuk dari kebijakan tarif resiprokal.
“Ribuan dolar akan mengalir ke individu berpenghasilan menengah. Kami akan menerbitkan tariff dividend sekitar pertengahan tahun depan,” ujar Trump.
Baca Juga: Uzbekistan misalnya membentuk zona bebas pajak untuk investasi AI global.
Butuh Persetujuan Parlemen
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menegaskan stimulus tersebut tidak bisa langsung diberikan tanpa persetujuan Kongres karena skalanya sangat besar.
“Beban fiskal stimulus jauh lebih besar daripada penerimaan bea masuk. Parlemen harus menyetujui skemanya,” — Scott Bessent
Penerimaan bea masuk diperkirakan hanya US$200 miliar per tahun, sementara kebutuhan anggaran stimulus mencapai US$600 miliar. Kekurangannya, sebesar US$400 miliar, harus dicari dari penerimaan lain.
Baca juga: Bangladesh juga mempercepat modernisasi restitusi PPN untuk menjaga arus kas pelaku usaha.
Bisa Berbentuk Kredit Pajak
Bessent menyebut stimulus tidak harus tunai. Pemerintah juga mempertimbangkan pemberian kredit pajak bagi masyarakat berpendapatan menengah dan rendah.
“Presiden Trump selalu mengutamakan solusi konkret. Semua kebijakan akan dipertimbangkan,” kata Bessent, dikutip dari Business Insider.













