JAKARTA – Pemerintah Indonesia kini tengah bersiaga penuh menghadapi dinamika tarif perdagangan global yang kian fluktuatif. Ketidakpastian kebijakan tarif di kancah internasional disinyalir menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan industri manufaktur dalam negeri. Pasalnya, investor tidak akan ragu untuk memindahkan basis produksinya ke negara yang menawarkan insentif dan efisiensi biaya yang lebih kompetitif.
Sesmenko Perekonomian, Susiwijono Moegiarso, mengungkapkan bahwa fenomena relokasi industri merupakan tantangan sekaligus cambuk bagi pemerintah untuk berbenah. Menurutnya, kerentanan kebijakan tarif global harus direspons dengan penguatan sistem logistik nasional agar daya tarik investasi tetap terjaga.
“Dengan kebijakan tarif yang rentan seperti ini, akan mudah sekali terjadi perpindahan basis-basis industri. Tapi ini nanti akan menjadi dorongan kita melakukan efisiensi logistik kita.”
— Susiwijono Moegiarso, Sesmenko Perekonomian
Belajar dari Ekspansi Vietnam di Pasar Eropa
Salah satu poin krusial yang disoroti adalah agresivitas negara tetangga, seperti Vietnam, dalam mengamankan pasar Uni Eropa. Susiwijono mengakui bahwa banyak pabrik memilih bermigrasi ke Vietnam karena negara tersebut telah memiliki kesepakatan dagang bebas (FTA) dengan Uni Eropa, yang memberikan keistimewaan tarif hingga 0%.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan posisi Indonesia yang selama ini masih dikenakan tarif bea masuk standar atau Most Favored Nation (MFN) oleh 27 negara anggota Uni Eropa. Perbedaan tarif yang signifikan ini membuat produk asal Indonesia kalah bersaing dari sisi harga di pasar global.
Namun, angin segar mulai berembus seiring dengan hampir tuntasnya perundingan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA). Melalui kesepakatan ini, pemerintah menargetkan akses pasar yang jauh lebih luas dengan beban biaya yang minimal bagi eksportir nasional.
Akses Pasar: Sekitar 98,5% produk ekspor Indonesia akan menikmati tarif bea masuk 0% ke pasar Uni Eropa setelah IEU-CEPA resmi diimplementasikan.
Memperluas Jangkauan ke Kanada dan Eurasia
Penghapusan tarif impor ini diprediksi akan memangkas beban produksi perusahaan secara signifikan. Dengan biaya yang lebih ringan, perusahaan manufaktur di Indonesia diharapkan dapat melakukan ekspor dengan lebih efisien, sekaligus memperkuat daya saing mereka terhadap produk luar negeri.
Tak berhenti di Eropa, pemerintah juga tengah membidik perluasan kerja sama perdagangan dengan kawasan lain, termasuk Kanada dan Eurasia. Optimisme ini dibangun di atas keyakinan bahwa rezim tarif rendah melalui skema CEPA dan FTA akan menjadi mesin penggerak baru bagi kinerja ekspor nasional dan pembukaan pasar-pasar potensial di masa depan.















